BOGOR, CEKLISSATU.COM – Seorang wanita asal Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Meri Aldawiyah (22) menjadi korban perdagangan orang dan penganiayaan di China.
Ketua Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS), Muhsin menjelaskan, Meri direkrut melalui jaringan yang secara sistematis menyasar perempuan muda dari daerah.
Menurut Muhsin, jaringan perdagangan orang tersebut aktif mencari wanita dengan memanfaatkan keluguan korban dan menjanjikan kehidupan mewah.
Baca Juga: Polri soal Penanganan TPPO: Korban Langgar Hukum Karena Paksaan Tak Dipidana
“Memang ada keluguan dan dijanjikan mereka akan diberikan janji yang sangat menggiurkan,” kata Muhsin, Selasa (3/1/2026).
Janji itu, kata Muhsin, menjadi pintu masuk hingga Meri bersedia diberangkatkan ke China.
“Namu di sana dia diperlakukan yang kurang baik,” katanya.
Baca Juga: Caritas Indonesia Peringatkan Bahaya Perdagangan Orang di Wilayah Pascabencana Sumatera
Selama berada di China, Meri disebut mengalami tekanan serius yang mengancam keselamatannya.
“Karena kekhawatiran disana ini, ada kekerasan yang dilakukan, penyiksaan dan intimidasi,” kata Muhsin.
Muhsin menyebut, proses membawa korban kembali ke Indonesia memakan waktu cukup lama.
Baca Juga: Rizki Akhirnya Dipulangkan setelah Jadi Korban Perdagangan Orang, Langsung Jalani Pemeriksaan Polisi
“Meri ini di sana 1 tahun dan kita pun berjuang selama 3 bulan untuk membawa Meri kembali lagi ke Indonesia,” terangnya.
Muhsin menyebut, Meri tiba di Indonesia pada Selasa (3/1/2026) hari ini, sekitar pukul 13.00 WIB.
Setibanya di tanah air, Meri langsung menjalani pemeriksaan intensif.
“Alhamdulillah kita sudah melakukan BAP hampir 7 jam,” kata Muhsin.
Muhsin memastikan, korban perdagangan orang itu kini telah kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya .
Comment