BOGOR, CEKLISSATU - Setelah Indonesia meraih penghargaan Fosil of the Day pada 15 Desember 2025 kemarin, sebagai negara penyumbang emisi karbon terparah yang tergabung ke dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30) di Belém, Brasil. 

Setelah enam bulan berlalu, kini Indonesia kembali mendapatkan gelar sebagai juara 2 penyumbang gas metana terbesar di dunia, yaitu di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang Bekasi Jawa Barat.

Kondisi itu didapatkan melalui laporan bertajuk 'Spotlight on the Thop 25 Methane Plumes in 2025: Landfills' yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026. Dimana pada sepanjang tahun 2025, dari 1 Januari hingga 31 Desember UCLA merangkum sebanyak 25 lokasi tempat pembuangan sampah dengan tingkat emisi metana tertinggi di dunia, salah satunya dan dua diantara yang tertinggi ialah Argentina diikuti Indonesia pada peringkat ke-2.

Baca Juga: Tekan Polusi Udara, Pemprov DKI Siapkan Kawasan Rendah Emisi Terintegrasi

Temuan rangkuman tersebut didapatkan melalui pantauan luar angkasa melalui satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan perangkat milik NASA yang terpasang langsung di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yaitu EMIT.

Keduanya mendeteksi terdapat lebih dari ribuan kilogram di sebanyak 25 lokasi metana tertinggi, yakni pada kadar 3,6 hingga 7,5 ton per jam. Selain itu satelit memantau, ada sebanyak 35 hembusan gumpalan gas metana berskala besar yang didapatkan dari pengamatan selama 13 hari.

Selain itu Carbon Mapper juga mengungkap pada pertengahan 2025 terdapat 12 ton per jam lonjakan gas metana. Di Bantargebang menghasilkan 6,3 ton gas metana per jam, menjadikan Kota Bekasi penyumbang gas metana tertinggi di dunia setelah Argentina dan menjadi terburuk di kawasan Asia.