BOGOR, CEKLISSATU - Kisah paling populer bagi masyarakat Bogor dan saksi perjalanan sejarah Indonesia salah satunya adalah Pertempuran Leuwiliang. Saksi dari pertempuran tersebut dapat ditemui di beberapa daerah di sepanjang daerah barat Bogor. Salah satunya adalah beberapa nisan yang bertuliskan huruf kanji Jepang. Nisan ini sudah pasti menjadi saksi sejarah pertempuran Leuwiliang yang menelan ratusan korban jiwa dari pihak Jepang dan Sekutu.
Dalam sebuah jurnal yang bertajuk “Operasi Jawa” dimulai dengan penjelasan singkat tentang operasi sesaat sebelum invasi dan disposisi yang menguntungkan dari pasukan Jepang. Catatan ini bercerita tentang perjalanan singkat keberhasilan pasukan dan penyerahan pasukan Australia yang didukung artileri Amerika Serikat dan kendaraan berat dari Britania Raya.
Serbuan Pagi Buta
Detasemen-detasemen yang sudah disiapkan dari Angkatan Darat Jepang langsung merangsek ke sejumlah titik di pulau Jawa. Hal itu dilakukan setelah berhasil mengatasi serangan laut dan udara musuh. Serentak pada fajar, 1 Maret 1942, pasukan utama Angkatan Darat ke-16 mendarat di dekat Tanjung Awoeran dan Merak. Sementara Detasemen Shoji mendarat di sekitar Eretan-wetan (Indramayu), dan Divisi 48 serta Detasemen Sakaguchi mendarat di sekitar Kragan (Rembang).
Menjelang sore, kekuatan utama telah maju ke Sungai Ciujung, Lebak, Banten, Detasemen Shoji ke lapangan terbang Kalidjati; Detasemen Sakaguchi ke sekitar Blora, dan Divisi 48 sekitar 50 km ke daratan dari titik pendaratannya. Semua perlawanan musuh telah dimusnahkan dan semua penghalang jalan di sektor-sektor ini telah diatasi.
Pada hari "H", Divisi 2 yang mendarat di Merak dan maju ke arah Sungai Ciujung maju ke Buitenzorg (Bogor) untuk memotong garis mundur musuh dan sumber bala bantuan serta mendapatkan keuntungan pangkalan untuk merencanakan serangan terhadap Bandung. Sedangkan badan utama Divisi 2 akan maju sepanjang Jalan Raya Serang-Tangerang-Batavia lalu merebut Batavia serta daerah di bagian selatan.

Buitenzorg dinilai cukup strategis bagi militer Jepang karena posisinya yang berada diantara dua kota besar yaitu Batavia dan Bandung. Maka dari itu Detasemen kemudian merebut Buitenzorg untuk memotong jalur mundur musuh dari Batavia ke Bandung sehingga Pasukan Australia akan tertahan di Batavia.
Battle of Leuwiliang
Pada tanggal 2 Maret 1942, sebagian Detasemen Nashu mengejar musuh menuju Buitenzorg. Sementara kekuatan utamanya terkonsentrasi di sekitar Rangkasbitung kemudian maju menuju Buitenzorg. Saat malam hari Detasemen Nashu sudah tiba di sekitar Jasinga dengan menggunakan sistem antar-jemput, untuk proses mobilisasi dengan cepat. Detasemen Nashu bekerja sama dengan perusahaan otomotif yang sengaja dibawa sejak pendaratan di Merak.
Setiba di Jasinga Detasemen Nashu langsung melakukan pembersihan jalur menuju timur atau sekitar Jalan Raya Jasinga dari penghalang anti-tank yang ditempatkan di sepanjang jalan. Sedangkan pasukan garis depan Detasemen Nashu membubarkan sebagian pasukan musuh ke timur menuju Bunar. Setelah mendorong mundur pasukan Australia, keesokan harinya pada tanggal 3 Maret, pasukan garis depan Detasemen Nashu sudah tiba di sekitar Leuwiliang.
Mereka menemukan Jembatan Leuwiliang sudah hancur dan sekitar dua kompi tentara Australia berjaga di pos-pos pertahanan di sisi timur jembatan. Sementara di belakang Leuwiliang, pada garis sepanjang beberapa kilometer yang membentang ke utara dan selatan dari Cibatok, telah disiapkan posisi-posisi berupa pos-pos pertahanan yang dijaga oleh kurang lebih 1.500 tentara Australia. Selain itu, di kawasan sekitar Buitenzorg, musuh masih membangun posisi.
Detasemen Nasu merencanakan serangan malam menyeluruh terhadap posisi musuh di Cibatok. Oleh karena itu, mereka mengirimkan kekuatan utama Resimen Infanteri ke-16 dari sisi selatan Leuwiliang dan mengirim Resimen Pengintaian ke-2 menyusuri Sungai Cikaniki dengan menggunakan mantel.
Namun waktu telah terbuang sia-sia, dan segala upaya untuk menyeberangi sungai di sisi selatan Leuwiliang gagal. Akhirnya setelah persiapan sehari penuh, pada tanggal 4 Maret dilakukan serangan malam dan Detasemen Nashu berhasil menyeberangi sungai beberapa mil di selatan Leuwiliang.
Pasukan Australia melawan dengan keras namun terpaksa mundur ke posisi di sebelah barat Buitenzorg. Di sana pasukan Jepang menemukan bahwa tiga jembatan di sepanjang jalan raya utama telah hancur dan mereka terpaksa maju menyusuri jalan samping melalui Ciampea, kemudian mengarungi Sungai Cisadane hingga mencapai tepi kanan.

Nippon Duduki Buitenzorg
Setelah menguasai Leuwiliang pada tanggal 5 Maret petang, Detasemen Nashu membersihkan musuh dari tepi kanan Sungai Cisadane di utara Ciampea. Sementara elemen Detasemen lainnya maju ke Bantar Kambing, kira-kira delapan kilometer barat laut Buitenzorg. Pada lain tempat, musuh di wilayah Batavia berangsur mundur menuju Buitenzorg.
Pada malam hari Detasemen Nashu bersama dengan sekitar satu batalyon Detasemen Fukushima dan satu batalyon Detasemen Sato dipaksa harus menduduki Buitenzorg. Tanpa berbekal informasi dan situasi musuh, kedua detasemen itu melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap Buitenzorg. Pada 6 Maret pagi, kedua Detasemen berhasil menembus pertahanan kota. Namun, diketahui bahwa sekitar 2.000 sampai 3.000 tentara Australia yang mempertahankan Buitenzorg telah mundur menuju Bandung, Pada pukul 06.00 tanggal 6 Maret 1942, Buitenzorg telah diduduki.
Penulis : Eko, Komunitas Bogor Historia
Sumber : JOURNAL, THE INVASION OF THE NETHERLANDS EAST INDIES (16TH ARMY)
Comment