JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Di tengah kondisi sosial dan politik Indonesia yang semakin kompleks, membaca buku tak lagi sekadar hiburan.

Membaca bukan hanya sekedar menjadi hiburan, juga menawarkan sudut pandang kritis tentang kekuasaan, demokrasi, sejarah, hingga realita sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini.

Berikut rekomendasi rekomendasi buku bacaan yang  menawarkan sudut pandang kritis tentang kekuasaan, demokrasi, sejarah, hingga realita sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini.

1. Laut Bercerita Karya Leila S Chudori

Baca Juga: Rekomendasi Perpustakaan Cozy di Bogor untuk Tugas, Baca Buku, sampai Me Time

Novel Laut Bercerita mengisahkan kisah dramatis mahasiswa aktivis pada masa Orde Baru di Indonesia, dengan tokoh utama bernama Biru Laut Wibisana. 

Cerita dibagi dalam dua babak besar yaitu pada babak pertama berlatar 1991–1998 dan babak kedua di 2000–2007. 

Di babak pertama, kita mengikuti Laut dan kawan-kawannya bergabung dengan organisasi bawah tanah Winatra dan Wirasena yaitu kelompok yang mengkritik rezim, mendiskusikan buku-buku "berbahaya," dan merencanakan perlawanan. 

Sampai akhirnya mereka ditangkap, disiksa, dan sebagian besar menghilang tanpa jejak.

Di babak kedua, kamera beralih ke adik Laut, Asmara Jati, dan para keluarga korban yang terus menunggu kepastian. 

Yang membuat novel ini luar biasa bukan hanya ceritanya tapi cara Leila membangunnya. Ia melakukan riset secara langsung dengan cara mendatangi beberapa lokasi yang dipercaya menjadi tempat pengasingan para mahasiswa, dan mewawancarai keluarga korban tahanan politik (tapol) selama bertahun-tahun. 

Hasilnya adalah narasi yang terasa hidup dan menyentuh karena ia memang lahir dari kesaksian nyata. 

Untuk memperdalam kisahnya, Leila mewawancarai para korban penculikan serta keluarganya, termasuk tokoh-tokoh seperti Mugiyanto Sipin, Rahardja Waluya Jati, dan Budiman Sudjatmiko.

Baca Juga: Belajar Sambil Ngopi, Tren atau Kebutuhan Mahasiswa? ‎ ‎

2. Animal Farm Karya George Orwell 

Major seekor babi jantan bermimpi tentang dunia tanpa penindasan. 

Ia menyampaikan mimpi itu kepada sesama hewan di Peternakan Manor, lalu mati sebelum sempat melihatnya terwujud. 

Dua babi cerdas, Napoleon dan Snowball, mengambil alih kepemimpinan dan memimpin pemberontakan melawan pemilik peternakan, Pak Jones. 

Sekelompok hewan di Peternakan Manor melakukan pemberontakan terhadap penindasan manusia, mendirikan sistem pemerintahan mereka sendiri, namun pada akhirnya terjerumus ke dalam tirani baru yang dipimpin oleh para elit hewan. Tokoh-tokoh babi seperti Napoleon dan Snowball.

Revolusi yang semula berprinsip "semua hewan setara" perlahan-lahan berubah. Slogan-slogan diubah diam-diam. 

Sejarah ditulis ulang. Dan kalimat terakhir yang paling terkenal dari novel ini berbunyi: "Semua binatang setara, tapi beberapa binatang lebih setara dari yang lain."

George Orwell mengaku bahwa karyanya ini bertujuan untuk mengkritisi masa pemerintahan Stalin di Uni Soviet, di mana kala itu terlalu otoriter dan diktator. 

Tapi relevansinya jauh melampaui Uni Soviet. Walaupun novel ini sebenarnya menyindir peristiwa politik nyata (Revolusi Rusia dan pemerintahan Stalin), sindiran-sindiran dan kemunafikan di dalam cerita ini masih bisa disaksikan pada berbagai situasi kekuasaan dan pemerintahan di dunia nyata, termasuk di Indonesia sendiri. 

3. Namaku Alam Karya Leila S Chudori

Setelah sebelas tahun Novelnya yang berjudul Pulang , Leila S. Chudori mempertemukan kembali pembaca dengan sosok Segara Alam. 

Sejak belia dicap sebagai anak pengkhianat negara dikarenakan anggota keluarganya yaitu Bapaknya merupakan aliran penentang yaitu orang kiri dalam mengkritik orde baru, Alam tumbuh sebagai seorang anak lelaki pemberang yang tak pernah jeda bergulat memahami identitasnya. 

Bapak Alam adalah seorang wartawan yang dituding dekat dengan Lekra  yaitu lembaga kebudayaan yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Akibatnya, Alam mewarisi stigma yang bukan miliknya. 

Stigma tersebut membuatnya menjadi sasaran perundungan dan diskriminasi di sekolah maupun lingkungannya. Namun Alam tidak diam saja dan membalas mereka dengan kekerasan dengan maksud membela diri. 

Baca Juga: 5 Cafe Hits di Bogor yang Wajib Masuk List Nongkrong hingga WFC, Ada yang Buka 24 Jam dan Super Estetik

Alam memiliki kemampuan photographic memory, namun ingatannya yang tajam ini justru menyiksanya sehingga membuat semua pengalaman masa kecil traumatis terekam jelas di kepalanya dan terus memperdalam perasaan dendamnya.

Novel ini berlatar era 1980-an, mengangkat isu mulai dari sejarah hingga sosial seperti kesehatan mental dan bullying. 

Leila juga mengangkat isu yang masih relevan sampai sekarang, yaitu perundungan. "Isu yang akan familiar dan relevan adalah sepanjang 12 bab itu ada cerita terkait perundungan atau bully. Karena anak-anak di zaman itu sama seperti zaman sekarang, masih banyak bully di kalangan anak sekolah."

Baca Juga: Suasana Sejuk dan Menu Terjangkau, Tefa Café di SKI Katulampa Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner Bogor

4. Cerita dari Digul Karya Pramoedya Ananta Toer 

Cerita dari Digul merupakan kumpulan tulisan karya para eks-Digulis. Mereka pernah dibuang sebagai tahanan politik semasa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. 

Berbagai cerita itu, yang sungguh-sungguh terjadi, mengisahkan suka-duka mereka dalam mempertahankan hidup di tanah buangan Digul, Papua Barat. 

Karya-karya tersebut yang dikumpulkan dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer, layak dicatat sebagai dokumen sejarah sastra dan bahasa Indonesia. 

Buku ini memuat lima cerita pendek dari para pengarang eks-Digulis dimana cerita dimulai dari kisah pelarian melintasi rimba lebat Papua, romansa yang terpisah jarak pembuangan, hingga pergulatan bertahan hidup di tanah yang asing dan keras. 

Baca Juga: Rekomendasi Cafe Nyaman untuk Nugas Bareng di Bogor

Salah satu cerita, Pandu Anak Buangan, bahkan boleh jadi merupakan satu-satunya karya sastra Indonesia bertema psikologi hingga 1945.

Satu hal yang menjadikan buku ini istimewa adalah siapa yang menyuntingnya. Pramoedya Ananta Toer sendiri adalah seorang tahanan politik, ia pernah dipenjarakan di Pulau Buru selama satu dekade oleh rezim Orde Baru. 

Ia tahu betul seperti apa rasanya diasingkan karena pikiran. Maka ketika ia memilih dan menyunting kisah-kisah dari Digul ini, buku tersebut bukan sekadar antologi sastra. Ia adalah representasi dari orang-orang yang dianggap musuh negara juga berhak untuk didengar dan diingat. 

Baca Juga: Alinson Sunset Hill: Tempat Ideal di Puncak untuk Liburan dengan Penginapan hingga Cafe Menawan

Cerita ini cukup relatable akan kondisi Indonesia di tengah rezim keterbaruannya, cukup menarik dikarenakan sangat dekat dengan fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini.

Jika dibaca secara berurutan, keempat buku ini membentuk sebuah percakapan panjang tentang satu tema besar yaitu “bagaimana sebuah bangsa memperlakukan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh penguasanya”.  


(MG/Ade Pramitha)