Selain mikroorganisme, pakaian thrift juga berpotensi mengandung residu bahan kimia berbahaya seperti formaldehida, pestisida, dan pewarna beracun yang dapat memicu iritasi kulit, reaksi alergi, hingga gangguan pernapasan.

Tren thrifting menawarkan keuntungan ekonomi dan gaya hidup berkelanjutan yang menarik. Namun, kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan tetap harus menjadi prioritas utama. Risiko penularan virus, bakteri, jamur, dan parasit. Untuk mengantisipasinya terdapat satu langkah sederhana namun krusial, yaitu dengan cara bersihkan dengan benar sebelum digunakan. Proses perendaman dengan air panas, pencucian dengan deterjen, penjemuran, dan penyetrikaan dapat menekan berbagai ancaman mikroorganisme yang mungkin bersembunyi di balik serat kain.

Sumber: mediaindonesia.com , beritasatu.com , kompas.com 

Ade Pramitha