BOGOR, CEKLISSATU - Tren belanja pakaian bekas atau thrifting memang tengah digandrungi, terutama oleh generasi muda yang ingin tetap tampil gaya dengan budget terbatas sembari mendukung gaya hidup berkelanjutan. Namun, di balik gemerlap label brand ternama dan harga yang ramah di kantong, ada risiko kesehatan yang jarang disadari. 

Pakaian bekas yang belum melalui proses pembersihan yang tepat bisa menjadi sarang berbagai virus, bakteri, dan parasit berbahaya. Virus Molluscum contagiosum, misalnya, dapat bertahan hidup hingga lebih dari 48 jam di dalam serat kain. Risiko ini muncul karena pakaian bekas sering disimpan dalam kondisi kurang higienis, seperti di gudang lembab atau tempat yang tidak bersih, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi oleh berbagai patogen.

Baca Juga: Dibalik Harga Murah Baju Trenddy Terdapat Bahaya Industri Fast Fashion

Diantaranya penyakit yang dapat menginkubasi pada bagaian besar sebagai berikut:

1. Molluscum Contagiosum

Infeksi virus kulit yang ditandai dengan munculnya benjolan kecil, keras, dan berbentuk kubah pada kulit. Virus ini dapat bertahan di serat kain lebih dari 48 jam dan menyebar melalui kontak langsung dengan pakaian yang terkontaminasi.

2. Kudis

Disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei yang dapat hidup pada pakaian dan kain selama beberapa hari. Gejalanya berupa gatal intens, terutama di malam hari, serta ruam berbintik merah.

3. Infeksi Jamur (Dermatofitosis)

Jamur penyebab kurap dapat bertahan cukup lama di serat kain, terutama dalam kondisi lembab. Infeksi ini menyebabkan bercak merah, gatal, dan bersisik pada kulit.

4. Infeksi Bakteri

Bakteri seperti Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes penyebab impetigo dapat bertahan pada kain dan menular melalui kontak dengan pakaian yang terkontaminasi.

5. Kutu dan Parasit

Kutu kepala, kutu badan, dan tungau dapat hidup di pakaian dan berpindah ke kulit pengguna baru.

Selain mikroorganisme, pakaian thrift juga berpotensi mengandung residu bahan kimia berbahaya seperti formaldehida, pestisida, dan pewarna beracun yang dapat memicu iritasi kulit, reaksi alergi, hingga gangguan pernapasan.

Tren thrifting menawarkan keuntungan ekonomi dan gaya hidup berkelanjutan yang menarik. Namun, kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan tetap harus menjadi prioritas utama. Risiko penularan virus, bakteri, jamur, dan parasit. Untuk mengantisipasinya terdapat satu langkah sederhana namun krusial, yaitu dengan cara bersihkan dengan benar sebelum digunakan. Proses perendaman dengan air panas, pencucian dengan deterjen, penjemuran, dan penyetrikaan dapat menekan berbagai ancaman mikroorganisme yang mungkin bersembunyi di balik serat kain.

Sumber: mediaindonesia.com , beritasatu.com , kompas.com 

Ade Pramitha