BOGOR, CEKLISSATU - Di jantung Kabupaten Bogor, sebuah desa menyimpan rahasia penyembuhan yang melawan logika zaman. Dimana ilmu ditebus dengan kelumpuhan enam bulan dan pantangan yang tidak bisa dilanggar. Inilah Cimande, tempat yang namanya melegenda di seantero Jawa Barat, di mana denyut kehidupan bergerak dalam ritme yang berbeda, sebuah ritme yang menghormati warisan kuno.
Langkah kaki terdengar pelan di atas keramik yang dingin, kontras dengan hawa lembab terasa seperti memasuki sebuah tempat sakral, penuh hormat dan jauh dari kebisingan zaman. Disinilah ruang urut praktik Cimande berdiri dengan langit-langit rumah limasan tinggi melindungi sebuah ruangan yang diselimuti keteduhan dengan cahaya matahari menyelinap melalui celah sempit, menciptakan atmosfer remang-remang yang damai, khusyuk, dan penuh rahasia di tengah keheningan yang bersaksi.
Di bawah penerangan seadanya, H. Ujang Budi (68), seorang sesepuh Urut Cimande, masih setia menunggu mereka yang membutuhkan kesembuhan melalui sentuhan jari-jemarinya yang legendaris. Tangannya yang telah renta, namun masih kuat adalah saksi bisu tradisi yang telah ia peluk sejak tahun 80-an. Baginya, urut Cimande ini jauh dari kata hitungan bisnis, dengan kerendahan hati terhadap tradisi yang harus dijaga, ia mendedikasikan hidupnya untuk terus menolong sesama manusia melalui urut Cimande.
Keunikan urut Cimande yang sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit adalah buah dari dedikasi dan pengorbanan yang tak terhitung harganya. Dengan tatapan mata yang penuh makna dan hembusan napas panjang, ia mengenang kembali masa sulitnya demi menguasai ilmu tersebut. Ia harus menempa diri melalui praktik tanpa henti yang disandingkan dengan puasa ketat selama dua bulan lebih untuk memurnikan ilmunya. Terpuruk dalam kelumpuhan selama enam bulan merupakan puncak dari ujian yang harus dibayar mahal agar ia benar-benar mampu memiliki dan mempunyai keahlian tersebut.
“Ngebuka urut Cimande itu niatnya nolong. Bapak sampai puasa ilmu urut dua bulan lebih, sampai akhirnya lumpuh enam bulan karena tirakat dan kurang makan,” tuturnya sambil menyentuh kakinya lembut, seolah-olah tubuhnya ikut mengingat apa yang pernah dilalui.
Comment