BOGOR, CEKLISSATU.COM - Pemerintah Indonesia menetapkan target besar dalam pengendalian rabies.
Pulau Jawa diharapkan dapat mencapai status bebas rabies pada 2029, sedangkan Indonesia ditargetkan mencapai kondisi zero rabies pada 2030.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, saat menghadiri puncak peringatan World Rabies Day (WRD) 2026 di Lapangan IPB University Baranangsiang, Kota Bogor, Minggu (27/9/2026).
Baca Juga: Pergub Baru Berlaku, Penjual dan Konsumen Daging Anjing hingga Kucing di Jakarta Terancam Sanksi
Menurut Agung, peringatan WRD tahun ini mengangkat tema “Satu Aksi untuk Rabies, Stronger Together”.
Tema tersebut menekankan bahwa pengendalian hingga pembebasan rabies membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara bersama-sama.
Ia menyebut kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pemerintah daerah, organisasi profesi, dan perguruan tinggi menjadi bagian penting untuk mempercepat pencapaian target tersebut.
Baca Juga: Vaksinasi Rabies dan Pengobatan Hewan Gratis, Diskanak Kabupaten Bogor Gaet Antusiasme Warga
"Artinya, pengendalian dan pembebasan rabies ini harus dilakukan secara bersama-sama. Maka, pengendalian rabies ini akan semakin kuat dan kita bisa mencapai target tahun 2029 Jawa bebas rabies dan tahun 2030 Indonesia zero rabies," ujar Agung.
Agung mengakui, pengendalian rabies masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian.
Selain kebijakan dan program pemerintah, kepedulian masyarakat, terutama pemilik Hewan Penular Rabies (HPR), turut menentukan keberhasilan pencegahan.
Baca Juga: Pelayanan Vaksinasi Rabies Gratis
Hewan yang termasuk HPR antara lain anjing, kucing, dan kera. Para pemilik diminta memastikan hewan peliharaan mendapatkan perawatan yang baik serta vaksinasi rabies secara rutin.
Menurut Agung, upaya pengendalian akan sulit berjalan optimal apabila pemilik HPR tidak memiliki kesadaran untuk menjaga dan melakukan vaksinasi terhadap hewan yang dipeliharanya.
"Rabies menjadi PR tersendiri, karena rabies ini bukan hanya terkait dengan program pengendalian, tetapi yang paling penting adalah kepedulian masyarakat, khususnya para pemilik hewan pembawa rabies," katanya.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menyiapkan vaksinasi sekaligus menjalankan kegiatan surveilans bersama pemerintah daerah, organisasi profesi, dan perguruan tinggi.
Kolaborasi lintas sektor itu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat upaya menuju target Jawara 2029 atau Jawa bebas rabies serta Indonesia Zero Rabies 2030.
Saat ini, pemerintah masih memberikan perhatian khusus terhadap 12 provinsi yang kasus rabiesnya masih cukup tinggi. Wilayah tersebut mencakup Nusa Tenggara Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, serta beberapa wilayah di Sulawesi.
Baca Juga: Pemkot Depok Bangun Rabies Center, Perkuat Layanan Kesehatan Hewan dan Pencegahan Kasus Gigitan
Sementara itu, Jawa Barat juga masuk dalam wilayah yang menjadi sasaran pengendalian rabies.
Agung menyebut kondisi di Jawa Barat relatif lebih rendah dan tidak terdapat laporan kasus rabies dalam lima tahun terakhir.
Dari sisi hulu, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memiliki tanggung jawab untuk memastikan hewan pembawa rabies mendapatkan vaksinasi.
Pemerintah menetapkan cakupan vaksinasi minimal 70 persen sebagai salah satu target dalam pengendalian rabies.
"Dengan penguatan vaksinasi, surveilans, edukasi, serta keterlibatan aktif pemilik hewan, pemerintah berharap target Jawa bebas rabies pada 2029 dan Indonesia zero rabies pada 2030 dapat diwujudkan," tutup Agung.
Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, hingga September 2026, sekitar 160 kasus gigitan hewan tercatat di Kota Bogor, sehingga edukasi, vaksinasi, dan penanganan cepat menjadi langkah penting untuk mencegah penyakit rabies.
"Selain penanganan dari Puskeswan, kami juga memiliki banyak alumni IPB, khususnya yang ada di sekitar Kota Bogor, yang memang secara jejaring (networking) bisa mempercepat proses penanganan kasus-kasus," ujarnya.
Comment