BOGOR, CEKLISSATU- Penjualan hewan kurban di Kota Bogor, Jawa Barat, mengalami penurunan hingga 15 persen. Hal ini dikarenakan imbas wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan menurunnya daya beli masyarakat.
Hal itu diungkapkan Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. Dari catatan yang ia peroleh per 5 Juli 2022, penjualan hewan kurban jenis sapi di Kota Bogor masih berkisar di angka 2.300 ekor.
Berbeda pada periode yang sama di tahun 2021, di mana jumlah penjualan hewan kurban sapi di kisaran 4.500-5000 ekor.
"Betul, ada penurunan signifikan. Tahun lalu 5 hari jelang Idul Adha di kisaran 4 ribu hingga 5 ribu ekor, tahun ini cuma 3.200-an ekor sapi terjual," kata Dedie, Kamis 7 Juli 2022.
Menurutnya, penurunan penjualan sapi kurban terjadi selain karena ada kekhawatiran PMK pada hewan ternak, juga disebakan daya beli masyarakat menurun.
"Meskipun sudah ada pelonggaran PPKM, tetapi masih terdampak pandemi Covid-19, mirip dengan awal-awal Covid-19 melanda," ujarnya.
Baca Juga : Jelang Idul Adha, Diskanak Bogor Terjunkan 100 Mahasiswa IPB Dokter Hewan untuk Cegah PMK
"Kami sih berharap tahun ini setidaknya bisa menyamai jumlah tahun lalu yang di angka 4.500-5.000 ekor terjual," tambahnya.
Selain menumbuhkan ekonomi masyarakat khususnya para peternak, banyak yang berkurban juga dapat membantu meringankan beban warga kurang mampu.
Terkait pencegahan PMK pada hewan ternak, Dedie mengaku telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya memeriksa dan menyuntikan vaksin agar tidak menular ke hewan ternak lain terutama untuk kebutuhan kurban. Kemudian membentuk Satgas PMK tingkat kecamatan.
"Kami juga terus meyakinkan warga bahwa PMK tidak berdampak secara langsung kepada manusia, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebih," ucapnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor Anas Rasmana menyebutkan tahun ini terjadi penurunan penjualan hewan kurban sekitar 15 persen dibanding tahun lalu.
Baca Juga : Antisipasi PMK, DKPP Kota Bogor Mulai Vaksinasi Hewan Ternak
"Penjualan sapi sampai tanggal 5 Juni lalu hampir 3.000-an ekor yang pakai dokumen. Yang nggak pakai (dokumen) ada 200-an. Jadi total penjualan baru 3.200-an ekor sapi. Mudah-mudahan bisa menyamai tahun lalu di kisaran 4 ribu sampai 5 ribu," ucap Anas.
Sementara itu, Kementerian Pertanian dan Pemkot Bogor juga menerjunkan petugas untuk memantau pemotongan hewan kurban pada Idul Adha 1443 Hijriah.
Petugas tersebut terdiri atas insiminator swadaya, medis veteriner, paramedis veteriner, penyuluh pertanian, koordinator penyuluh pertanian, dan dokter hewan,.
"Kami menerjunkan 2781 orang terdiri 106 petugas dari Kementan dan selebihnya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka akan disebar ke seluruh Indonesia," ujar Sub Koordinator Analisa Resiko Penularan, Dirjen Peternakan Kesehatan Hewan, Shinta Dewi.
Shinta menyampaikan secara garis besar petugas akan melakukan pemeriksaan hewan kurban sebelum dan sesudah penyembelihan, didahului dengan pendataan dan terakhir dengan laporan-laporan.
"Tugas yang pertama adalah pemeriksaan antemortem dan postmortem dan apabila dibutuhkan menjelaskan, menerangkan tata cara penyembelihan hewan kurban di saat wabah PMK ini," katanya.
Comment