BOGOR, CEKLISSATU.COM - Gelombang demonstrasi yang melanda Indonesia kembali memunculkan wacana perlunya reformasi jilid II atau bahkan revolusi.
Namun, Pengamat Politik sekaligus Ketua Visi Nusantara Maju, Yusfitriadi, menilai pergantian rezim semata tidak akan mampu menyelesaikan persoalan bangsa.
Menurutnya, perubahan fundamental justru terletak pada mentalitas dan karakter masyarakat, bukan hanya pada struktur kekuasaan.
Baca Juga: Wakil Panglima TNI: Era Reformasi Jadi Momentum Soliditas Pertahanan RI
Yusfitriadi menjelaskan, bangsa Indonesia memang sudah mengalami beberapa kali pergantian rezim, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.
Namun, ia menilai perubahan tersebut belum mampu memberikan solusi nendasar bagi persoalan bangsa.
“Kalau kita bicara konstruksi perubahan kan kita sudah mengalami minimal dua kali perubahan, rezim Orde Lama dan rezim Orde Baru. Dari rezim Orde Baru ke hari ini itu adalah reformasi. Saya pikir kita sudah melakukan keduanya itu, tapi kemudian ternyata kondisi yang sedang kita hadapi itu sama,” jelas Yusfitriadi kepada Ceklissatu.com, Selasa (2/9/2025).
Baca Juga: Biro Organisasi dan Reformasi Birokrasi DKI Jakarta Gelar Sosialisasi Keterbukaan Informasi Publik
Ia mengatakan, baik revolusi maupun reformasi sejatinya hanya sebatas pergantian rezim, bukan perubahan menyeluruj bangsa.
“Setelah perubahan rezim apakah kemudian yang lainnya berubah? Faktanya enggak. Begitupun reformasi, setelah berubah rezim apakah yang lainnya tereformasi? Enggak juga,” sindir dia.
Bagi Yusfitriadi, perubahan paling fundamental justru terletak pada mentalitas dan karakter bangsa.
Baca Juga: LS Vinus Mengulas Peran Demokrasi dalam Tatanan Masyarakat di Indonesia, Yusfitriadi Bilang Begini
“Perubahan struktural apapun, perubahan rezim apapun itu tidak akan berdampak baik jika kemudian perubahan mentalitas tidak ada. Karena memang perubahan yang paling fundamental adalah perubahan mentalitas dan perubahan karakter,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya partisipasi publik dalam mengawal bangsa. Menurutnya, bahaya terbesar justru terjadi ketika orang baik memilih untuk diam.
“Sering ada istilah bahwa di kita itu tidak ada orang jahat, yang ada orang baik yang diem. Orang jahat itu tidak akan ada jikaorang baik tidak diam. Kita jangan sampai menjadi orang baik yang diam,” pungkasnya.