Tim peneliti FTUI membuat formulasi semen geopolimer berbasis terak nikel dari proses pembuatan nickel pig iron yang digiling menjadi serbuk halus dan menggunakan terak feronikel dari proses RKEF di PT Aneka Tambang sebagai agregat. 

Baca Juga: Apresiasi Program Satu TK Tiap Desa, Fahira Idris Urai Dampak Besarnya dan Sampaikan Lima Rekomendasi

Dari eksperimen ini, dihasilkan beberapa paten dan hasilnya dilanjutkan dengan uji coba aplikasi pada produk beton pracetak bekerja sama dengan PT Jaya Beton Indonesia.
 
Tak hanya itu, palm kernel shell atau cangkang kelapa sawit (CKS) juga dimanfaatkan sebagai pengganti agregat batu pecah pada beton. 

Hasil kajian tim peneliti FTUI yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menemukan bahwa dampak lingkungan dari penggunaan CKS sebagai agregat beton dibandingkan dengan agregat daur ulang serta agregat alam bersifat kontekstual bergantung pada kebutuhan performa mekanis dan aspek geografis. 

Dari sisi performanya, beton CKS memiliki kekuatan dan pola keruntuhan serta perilaku di bawah beban yang mirip dengan beton biasa namun lebih ulet, menjadikannya lebih tahan gempa.

Baca Juga: UI Sambut Dies Natalis Ke-76: Merawat Budaya, Menumbuhkan Sportivitas
 
Pemanfaatan bahan baku sekunder dalam industri konstruksi tidak hanya membuka peluang pengurangan limbah industri dan emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan material nasional. 

Penelitian Prof. Sotya terkait pemanfaatan bahan baku sekunder ini merupakan bagian dari peta jalan riset berkelanjutan di bidang rekayasa material konstruksi ramah lingkungan yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
 
Sejumlah publikasi ilmiahnya memperkuat arah riset tersebut, antara lain A Comparative Study of the Life Cycle Assessment of Natural, Recycled and Oil Palm Shell Aggregate Concretes (2025); Mechanical and Physical Characteristics of Oil Palm Empty Fruit Bunch as Fine Aggregate Replacement in Ordinary Portland Cement Mortar Composites (2024);