“Yang kita hadapi bukan sekadar kondisi lupa karena usia, melainkan demensia atau pikun, yakni sindrom yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif secara progresif, mengganggu kemandirian, dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup lansia secara signifikan. Kondisi ini turut membebani keluarga dan sistem kesehatan,” ungkapnya dalam keterangan resmi.
Dalam upaya menangani masalah ini, Dr. Adisti bersama anggota tim memberikan edukasi terkait pemanfaatan tanaman pegagan (Centella asiatica) dan pentingnya aktivitas fisik bagi lansia.
Baca Juga: IPB Run 2025 Capai 4.000 Peserta, Panitia Siapkan Rute Asri Kampus Dramaga
Anggota tim terdiri atas Prof. Erni Hernawati Purwaningsih, Prof. Siti Farida, Dr.apt. Rani Wardani Hakim, Dr.apt. Desak Gede Budi Krisnamurti, apt. Rizky Clarinta Putri, apt. Wilzar Fachri, Refita Kesuma Putri, S.T.; dan Emi Endah Lestari.
Tim Pengabdi dan beberapa mahasiswa memperkenalkan tanaman pegagan kepada para peserta.
Tanaman ini dikenal luas sebagai brain tonic karena kandungan senyawa aktifnya—yaitu asiaticoside dan madecassoside—yang berfungsi sebagai neuroprotektor untuk membantu melancarkan sirkulasi darah ke otak, meningkatkan fungsi kognitif, serta melindungi sel-sel saraf dari kerusakan akibat radikal bebas melalui efek antioksidan dan anti-inflamasi alaminya.
Baca Juga: Integrasi Sistem Bank Sampah Digital dan Smart Farming TOGA Wujudkan Desa Berkelanjutan di Kendal
“Pegagan terbukti dapat membantu mengurangi kecemasan dan memperbaiki suasana hati, yang secara tidak langsung turut mendukung daya ingat dan kualitas hidup lansia," jelasnya.