BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Mahasiswa Demo dan Aksi di Gedung DPR serta DPRD Kota dan Kabupaten. Seorang Driver Ojol Meninggal Setelah Dilindas Mobil Brimob. Seorang Mahasiswa Dipukuli oleh Aparat. Awalnya Berdamai Tapi Ternyata Aparat dengan Demostran Ricuh Juga. Ratusan Pelajar Ditahan Karena Hendak Demo ke Jakarta. Seorang Ibu Pekerja Menangis Karena Menjadi Korban Kericuhan.
Kalimat-kalimat tersebut dan kalimat-kalimat lainnya menjadi judul-judul dan tema yang diajukan oleh Redaktur-redaktur serta Reporter di Lapangan. Tidak ada kata lain, sedih dan juga geram.
Dalam kondisi ini rakyat hanya ingin menyuarakan aspirasi, namun malah diadu dengan aparat. Rakyat yang tanpa senjata ya jelas tak berdaya.
Baca Juga: Satpol PP Kota Bogor Sampaikan Permohonan Maaf Atas Insiden Pemukulan Kepada Masa Aksi Unjuk Rasa
Bukan tanpa sebab, kondisi hari ini akibat kebijakan-kebijakan dari Pilar Negara yakni Lembaga Eksekutif, Legislatif bahkan Yudikatif yabg terkadang nyeleneh dan tidak pro terhadap rakyat.
DPR, yang seharusnya menjadi perwakilan rakyat lebih memilih memutuskan kebijakan kenaikan tunjangan-tunjangan dibanding mendorong kebijakan untuk kesejahteraan Guru, Dosen, Tenaga Kesehatan dan membuka lapangan pekerjaan.
Eksekutif juga sama, di saat rakyat masih kesulitan mendapat pekerjaan, di elit justru bagi-bagi pekerjaan untuk pejabat yang padahal sudah punya pekerjaan.
Baca Juga: Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di DPRD Kota Bogor Berakhir Ricuh, Polisi Tolak Massa Masuk Gedung
Jangan sampai 1998 terjadi lagi. Itu kenangan pilu bagi negeri ini, bukan hanya berbicara rakyat yang menundukkan rezim, tapi berapa korban yang jatuh? Seberapa banyak darah yang tumpah? Dan berapa banyak ibu yang hingga kini menangis dan mencari anak-anak mereka?
Kami dari pilar keempat bangsa, Media, tidak mau tragedi itu terulang, kita harus belajar dari masa lalu. Ruang-ruang dialog yang dulu tidak tersedia, saat ini harus terbuka lebih lebar. Jangan sampai ruang-ruang itu menjadi saksi peperangan antara rakyat dan negara, jangan.
Kami coba berimbang, menceritakan kondisi di lapangan dan juga tetap berperan sebagai kontrol sosial.
Kami berharap, kaum elit mau membuka ruang, menghentikan tindakan-tindakan represif hingga tidak ada darah, luka hingga nyawa yang melayang.
Sudah, Buka Ruang Diskusi, Semua untuk Bumi Pertiwi
Salam
Suhairil Anwar
Pemimpin Umum Ceklissatu.com