Kita harus bertanya apakah kita benar-benar menghayati nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam hidup kita? Apakah kita sebagai anak muda dan sebagai bangsa, sudah menjadikan sekolah dan ruang sosial aman, adil, dan manusiawi bagi semua? Ketika seorang anak dipukul karena berbeda, ketika seorang remaja dihina karena penampilan atau pilihannya, ketika kamera merekam alih-alih membantu, itu bukan sekadar pelanggaran, tetapi kegagalan kita sebagai masyarakat dalam mendidik generasi penerus.
Waktunya telah tiba bagi kita untuk bertindak. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, bukan sekadar pengamat yang diam. Orangtua harus menjadi pendengar dan pelindung pertama. Pemerintah perlu memperkuat aturan dan pengawasan, serta memastikan setiap sekolah benar-benar memiliki program anti-kekerasan yang efektif. Media sosial seharusnya menjadi wadah untuk menggalang dukungan, bukan alat untuk menyebarkan kekerasan. Yang terpenting, kaum muda sendirilah yang harus berada di garda terdepan untuk menyatakan: cukup. Cukup dengan budaya senioritas yang menindas. Cukup dengan berdiam diri saat menyaksikan kekerasan. Cukup dengan meremehkan rasa sakit hati.
Baca Juga: Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Bogor
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini perlu menjadi titik balik. Kita harus menghidupkan kembali semangat persatuan dengan cara yang paling praktis melindungi mereka yang rentan, merangkul mereka yang berbeda, dan menolak segala bentuk kekerasan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengusir penjajah. Tetapi juga bangsa yang mampu melawan kekerasan yang tumbuh dalam dirinya. Perundungan bukanlah bagian dari budaya kita. Itu adalah penyakit yang harus kita lawan bersama. Kaum muda, seperti delapan puluh tahun yang lalu, tetap menjadi harapan utama untuk mewujudkan perubahan itu.
Oleh: Nina Rosiana
Mahasiswi Prodi Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip)
Universitas Djuanda (Unida)