BOGOR, CEKLISSATU -- Dalam bukunya The Clash of Civilizations, Samuel P. Huntington memprediksi bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang dimenangkan oleh Amerika, benturan peradaban selanjutnya akan terjadi antara peradaban Barat dengan Islam, dan kemudian dengan Tiongkok.
Sementara itu, mantan Presiden Iran, Muhammad Khatami, dalam karyanya Dialog Antar Peradaban, menyatakan bahwa peradaban Barat sejak era Renaissance hingga saat ini telah memasuki masa uzur. Namun, peradaban ini tetap bertahan karena kemampuannya dalam memodifikasi dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika langkah-langkah dari peradaban yang telah renta ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat dunia, termasuk potensi ancaman terjadinya Perang Dunia Ketiga.
Patut disadari bahwa peradaban besar yang kini masih eksis dan berpengaruh di dunia adalah peradaban Barat, Islam, dan Tiongkok (Konfusianisme).
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Volume Kendaraan, Kapolres Bogor Tinjau Lalu Lintas Via CCTV Puncak Gadog
Masa depan dunia sangat ditentukan oleh ketiga peradaban utama ini. Eksistensi suatu peradaban ditopang oleh dua pilar utama, yaitu kekuatan militer dan ekonomi. Kedua aspek inilah yang terus diperkuat dan dibesarkan.
Pembangunan kekuatan militer bertujuan untuk melemahkan kekuatan lain, sementara penguatan ekonomi dilakukan dengan cara mengurangi dominasi ekonomi peradaban lainnya.
Fenomena perang dagang yang kini menjadi isu internasional tidak lain merupakan bentuk dari benturan peradaban.
Penggunaan kekuatan militer dianggap sebagai langkah yang dapat memicu kehancuran global, sehingga berbagai bentuk diplomasi dan negosiasi pun dilakukan guna menghindari konflik bersenjata.
Baca Juga: Puluhan Tahun Jadi Sopir Lokal Wisata Timur Tengah di Puncak Bogor, Kini Menganggur
Dalam konteks ini, perang dagang menjadi metode baru untuk melemahkan peradaban lawan secara tidak langsung.
Ekonomi kini tidak hanya menjadi instrumen untuk membangun dan mempertahankan peradaban, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk menundukkan peradaban lain.
Sayangnya, dalam proses ini, pembangunan ekonomi kerap kali mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam secara masif. Semakin besar kekuatan ekonomi yang dikembangkan, semakin berkurang pula cadangan sumber daya alam yang tersedia.
Inilah paradoks yang muncul dalam benturan antarperadaban. Abad ke-21 sebenarnya merupakan era di mana semangat kolaborasi seharusnya menjadi nilai utama.
Namun, mengapa kolaborasi antarperadaban masih sulit diwujudkan? Orang-orang bijak dan cerdas akan membangun jembatan kerja sama antarperadaban. Sebaliknya, mereka yang bodoh justru akan terus menciptakan konflik dan permusuhan.
Baca Juga: Pasca Bogor Diguncang Gempa, Dedie Rachim Imbau Warga Tetap Waspada
Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, pernah menyatakan bahwa kebijakan perang dagang yang pertama kali diluncurkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merupakan tindakan yang tidak berdasarkan pada kalkulasi ekonomi yang rasional.
Hal ini memperjelas bahwa peradaban Barat yang saat ini dipimpin oleh Amerika telah memasuki masa pikun, di mana langkah-langkah yang diambil tidak lagi dapat dijelaskan oleh logika maupun dipahami oleh imajinasi.