BOGOR, CEKLISSATU - Baru-baru ini kita kembali menyaksikan bagaimana pernyataan asal beberapa pejabat publik mampu memicu gelombang emosi masyarakat yang berakhir pada aksi protes keras, bahkan tak jarang berujung pada kerusuhan dan penjarahan. Ini bukan sekadar fenomena biasa; ini adalah alarm keras bagi seluruh pejabat publik untuk introspeksi dan berubah.

Bahkan, belum 24 Jam dilantik jadi Menteri Keuangan, Purbaya Budhi Sadewa melontarkan kata-kata yang menyayat hati rakyat. 

Pejabat publik seharusnya menjadi pilar kepercayaan masyarakat, bukan pemicu kekacauan. Sayangnya, kerap kali kita temui pernyataan mereka yang sembrono, tidak bijak, dan jauh dari empati. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka seolah tak mempertimbangkan dampak besar bagi masyarakat luas. Ini bukan hanya soal komunikasi buruk; ini soal kegagalan memahami tanggung jawab besar sebagai pemimpin.

Baca Juga: Pelantikan Pejabat Baru, Bupati Bogor Rudy Susmanto : Dorong Inovasi dan Pelayanan Publik


Empati dan simpati adalah dua kata kunci yang harus melekat pada setiap pejabat publik. Mereka harus bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat, memahami kesulitan rakyat, dan merespons dengan kebijakan yang berpihak pada kebaikan bersama. Bukan malah dengan entengnya mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati banyak orang.

Tapi empati saja tidak cukup. Pejabat publik harus bisa *aksi*, bukan hanya omong doang. Janji-janji manis tanpa realisasi konkret hanya akan menambah daftar kekecewaan masyarakat. Mereka harus bergerak, bertindak nyata, dan menunjukkan komitmen untuk memperbaiki keadaan. Jangan hanya berbicara di podium, tapi hasilnya nihil di lapangan.