JAKARTA, CEKLISSATU.COM -- Di tengah hiruk-pikuk konflik global hari ini—khususnya yang melibatkan Israel, Amerika, dan Iran—perdebatan publik kerap terjebak pada dua kutub: data strategis dan emosi politik. Kita membaca angka korban, analisis militer, serta peta aliansi geopolitik. Namun, ada satu dimensi yang sering luput: bahasa sebagai pembentuk cara pandang dan rasa kolektif suatu bangsa.

Sebagai pengajar bahasa-bahasa Semit—Ibrani, Arab, dan Suryani—serta pernah belajar bahasa Persia, saya hidup dalam tegangan linguistik setiap hari. Mengajar bahasa tidak hanya soal tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga tentang merasuki jiwa bahasa itu. 

Saya harus menggunakan "rasa bahasa" (dzauq, tekhusah, atau feeling) untuk menjelaskan mengapa kata yang sama bisa melahirkan narasi yang bertolak belakang. Saya melihat konflik tidak hanya sebagai benturan kepentingan, tetapi juga benturan “rasa bahasa”. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah rumah bagi sejarah, trauma, dan harapan.

Akibatnya, mau tidak mau, saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai hari ini dengan bahasa mereka masing-masing. 

Baca Juga: Pelajaran Dari Industrialisasi Pertahanan Iran: Model Kemandirian Terpaksa

Saya merasakan getaran traumatis dalam kata "Bitachon" (ביטחון) dalam bahasa Ibrani—sebuah obsesi terhadap keamanan absolut yang lahir dari penganiayaan berabad-abad hingga peristiwa Holocaust dan ancaman eksistensial yang terus membayangi. Di saat yang sama, jiwa saya tersentuh oleh istilah "Al-Muqawamah" (المقاومة) dalam bahasa Arab—perlawanan yang tidak sekadar taktik militer, melainkan nilai sakral yang lahir dari pengalaman pendudukan, pengusiran (Nakba), dan keterpurukan. 

Bahasa Persia (Farsi), dengan puisi epiknya seperti Shahnameh, mengajarkan saya tentang "Sha'n" (شأن)—sebuah martabat yang harus dipertahankan, yang dalam konteks Iran modern, telah menjadi poros doktrin politik luar negerinya: kemandirian dan penolakan terhadap dominasi asing.

Ini bukan sekadar simpati politik; ini adalah konsekuensi ontologis dalam mempelajari bahasa. Bahasa membangun "dunia" yang berbeda dalam diri seseorang. Namun, perlu diingat bahwa bahasa hanyalah salah satu faktor. 

Skeptisisme sebagian penduduk berbahasa Rusia di Ukraina terhadap pemerintah mereka, misalnya, tidak semata-mata disebabkan oleh bahasa, tetapi juga oleh sejarah panjang Soviet, manipulasi Rusia, faktor ekonomi, dan disinformasi. Bahasa menjadi media yang memperkuat, bukan satu-satunya penentu.

Baca Juga: Warga Bogor Diminta Tidak Panic Buying, Dandim Pastikan Stok Pangan Aman

Vijay Prashad dalam suatu wawancara beberapa waktu lalu menyatakan bahwa bahasa yang digunakannya sehari-hari adalah Urdu dan Hindustani yang sangat dipengaruhi dan penuh dengan kosakata Persia. Ia menjelaskan:

"Bahasa yang saya gunakan sejak kecil sarat dengan kata-kata Persia. Bahasa Urdu dan Hindustani sangat bergantung pada bahasa Persia yang memberikan banyak diksi, yang kemudian diserap lalu berevolusi ke dalam bahasa kami. Begitu banyak puisi kami yang dipengaruhi oleh tradisi besar Persia. Karena itu, sungguh mengerikan melihat India mengkhianati Iran. Ini bukan pertama kalinya; sekitar 20 tahun lalu, Amerika Serikat mendesak India untuk memilih melawan Iran di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) demi menjatuhkan sanksi."

Dua gambaran di atas menegaskan bahwa bahasa adalah jembatan sejarah yang tak mudah diputus oleh kepentingan politik sesaat. Ia menjadi salah satu faktor yang memperkuat hubungan antar manusia dan bangsa, meski tekanan geopolitik terus mengerogotinya.