Lalu pada pertengahan Juli, debit air mulai berkurang menjadi 3.000 liter per detik. Hari berikutnya berkurang lagi menjadi 2.800 liter per detik.
Kini, menjadi 2.700 liter per detik. Dengan rincian 2.500 liter dialirkan ke irigasi Kalibaru dan 200 liter ke Sungai Ciliwung.
Atas kondisi tersebut, pihak Bendung Katulampa terus berkoordinasi dengan Perumda Tirta Pakuan, terkait debit air di Bendung Katulampa. Sebab hal itu berkaitan dengan kebutuhan air warga Kota Bogor.
“Kami koordinasi terus terkait debit berapa, karena untuk kepentingan masyarakat Kota Bogor juga. Ke Ciliwung dialirkan, ya 200 liter,” kata Andi.
Lebih lanjut Andi menjelaskan, kondisi Bendung Katulampa paling mengkhawatirkan pernah terjadi pada 2015. Di mana saat itu, debit air Sungai Ciliwung yang masuk hanya 1.500 liter per detik.
“Irigasinya cuma 1.200 sampai 1.300 liter. Dibagi-bagi saja sama Ciliwung, untuk penggelontoran, ekosistem dan air baku di PDAM Kota dan Kabupaten Bogor,” jelasnya.
Ia menambahkan, hujan lokal yang mengguyur Kota Bogor beberapa waktu ke belakang, pun tidak mempengaruhi debit air di Bendung Katulampa. Sebab, kenaikan debit air di bendung tersebut dipengaruhi oleh curah hujan di hulu Sungai Ciliwung atau di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
Sementara itu, Pemkot Bogor melalui Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor memastikan dua sumber air baku, yang didistribusikan kepada ratusan ribu pelanggan Kota Bogor setiap harinya memasuki musim kemarau ini tetap aman.
Meski begitu warga khususnya pelanggan Perumda Tirta Pakuan agar tetap menghemat penggunaan air.