JAKARTA, CEKLISSATU – Untuk meningkatkan balasan serangan ke Rusia, Angkatan Bersenjata Ukraina terima bom klaster dari Amerika Serikat (AS).

Pekan lalu, AS mengatakan akan mengirimkan amunisi bom klaster ke Ukraina untuk membantu pertempuran melawan pasukan Rusia. Rencana itu memicu kekhawatiran risiko jangka panjang bagi warga sipil, jika bom klaster itu gagal meledak.

"Kami baru saja mendapatkannya, kami belum menggunakannya. Tetapi mereka [bom klaster] dapat mengubah medan perang secara radikal," kata komandan tentara Ukraina, Oleksandr Tarnavskyi, dikutip dari AFP, Jumat 14 Juli 2023.

Baca Juga : Prabowo Usulkan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina di Pertemuan Shangri-La Dialogue

“Dengan mendapatkan amunisi bom klaster ini, musuh tahu kami akan mendapatkan keuntungan,” ujar Tarnavskyi.

Sementara itu Letnan Jenderal Amerika Serikat, Douglas Sims, mengonfirmasi bahwa "bom klaster ada di Ukraina."

Sebelumnya Presiden AS Joe Biden mengungkapkan meski keputusan mengirim bom klaster ke Ukraina "sangat sulit", namun amunisi ini dibutuhkan bagi Ukraina mengisi kembali persediaannya yang habis.

Penggunaan senjata kontroversial bom klaster dilarang oleh banyak negara, terutama di Eropa. Bom klaster banyak dilarang oleh negara-negara karena bisa mengancam warga sipil.

Bom klaster bisa meledak pada ketinggian yang ditentukan, tergantung pada area target yang dituju, dan bom di dalamnya akan tersebar di area itu.

Bom ini disebut sebagai senjata kontroversial lantaran ketika dijatuhkan di area yang luas, dampak ledakannya bisa ikut membahayakan orang-orang di luar target serangan atau non-kombatan.