Seperti ketinggian gunung-gunung di Papua, yang cenderung berada di atas ketinggian 4.000 mdpl. Yang apabila berada di titik tersebut, kemungkinan gejala (Acute Mountain Sickness) dapat terjadi.

"Yang jelas gunung-gunung di Papua, nggak Cartenz doang. Secara medan beda sama gunung-gunung lain di Indonesia. Dari cuacanya, itu beda dari ketinggiannya pun kan khususnya Cartenz dan beberapa gunung lain juga kan lebih tinggi dibandingkan gunung-gunung di Indonesia yang lainnya," terang Nadya. 

"Kalau misalnya di Pulau Pulau lain kan paling cuma 3.000an kalau di sana kan udah ada gunung-gunung 4.000an dan di 4.000an kan sebenarnya kemungkinan AMS sudah mulai bisa terjadi," jelas Nadya.

Disamping ketinggian, Nadya menambahkan, cuaca ekstrim tak menentu seringkali terjadi di kawasan puncak gunung tersebut.

Baca Juga: Seorang Pendaki Meninggal Dunia Jatuh ke Jurang di Gunung Slamet, Berikut Ini Kronologinya

Oleh sebab itu, selain diperlukan pembekalan peralatan tambahan, juga diperlukan pembekalan skill memanjat untuk bisa mendaki sampai puncak Gunung impian para pendaki dunia tersebut.

"Di sana tuh medannya dominannya apalagi yang mau ke puncaknya itu batuan. Jadi emang udah butuh skill manjat, sistem tali-talian itu udah dibutuhin. suhu dan cuacanya kalau di sana emang gak menentu ya. Maksudnya gak menentunya lebih Ekstrim gitu dibandingkan gunung-gunung lain.