JAKARTA, CEKLISSATU -- Soal wacana libur sekolah selama satu bulan pada bulan suci Ramadan 2025 disambut baik oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas.
Ia menilai bahwa anak-anak dapat memperoleh pendidikan karakter di rumah selama Ramadan.
Sebelumnya, wacana libur satu bulan selama Ramadan 2025 kepada sekolah ini dilontarkan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Baca Juga : Lembaran Baru, Tahun Baru, dan Cara Closet 38 Memaknai Perjalanan
"Pendidikan itu bisa berlangsung di tiga tempat, di sekolah, di rumah dan di masyarakat," ungkapnya.
"Saya setuju dengan gagasan Menag tersebut di mana anak-anak libur di bulan puasa. Itu artinya anak-anak selama bulan puasa tidak pergi ke sekolah," terangnya kepada wartawan, seperti dikutip pada Kamis (02/01/2025).
Namun, kata Anwar Abbas selama libur itu anak-anak tetap harus mendapatkan pendidikan. ia menegaskan, pendidikan bisa diperoleh dari orang tua, serta lingkungan masyarakat.
Baca Juga : M. Rifqi Fitriadi Maju ke Babak Kedua M-25 Amman Mineral Men's World Tennis Championship 2024
"Tetapi bukan berarti mereka tidak mendapat pendidikan. Pendidikan tetap di dapat oleh sang anak, tapi itu mereka dapat dari orang tua dan masyarakat," tandasnya.
Anwar Abbas menyarankan, agar sekolah tetap melakukan komunikasi dengan orang tua, jika wacana libur sekolah diterapkan.
Selain itu, Anwar Abbas menyarankan, Kemenag bisa membahas dengan pihak sekolah juga orang tua siswa-siswi terkait wacana tersebut.
Baca Juga : Liburan Nataru, Peningkatan Pengunjung Rivera Capai 80 Persen
"Apa materi dan pengalaman yang akan didapatkan sang anak hendaknya dirancang oleh pihak sekolah dengan pihak orang tua," bebernya.
"Masyarakat dan anak sendiri, agar program libur selama puasa tersebut benar berarti dan bermakna tidak saja bagi sang anak tetapi juga bagi orang tua dan lingkungan serta sekolahnya," tambahnya.
Pihaknya berharap pendidikan tersebut dapat diarahkan kepada nilai-nilai agama, sosial, seni dan budaya. Serta ekonomi, bisnis, politik, kesehatan dan olahraga dan lain-lain.
"Jadi anak-anak yang akan kita bentuk itu tidak hanya cerdas otaknya, tapi mereka juga menjadi anak yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia yang selama bulan puasa mereka dapat di rumah dan di masyarakat," katanya.
"Jadi mereka selama bulan puasa belajar di rumah, di masjid, di karang taruna, di pasar, di lapangan olah raga dan lain-lain," tutupnya.