JAKARTA, CEKLISSATU - Sistem tanggap bencana China sedang dalam masa pengujian ditengah sungai-sungai yang membengkak dan penduduk yang terjebak di kota-kota terendam air, dampak dari badai terkuat dalam beberapa tahun terakhir
Topan Doksuri menerjang bagian utara China minggu ini dengan hujan ekstrem, memecahkan rekor curah hujan 140 tahun di Beijing dan mengguyurkan volume hujan yang biasanya turun dalam satu tahun penuh di provinsi berpenduduk padat, Hebei.
Pada Kamis, lebih dari 1,2 juta orang di Hebei telah dievakuasi ke tempat yang aman. Volume hujan yang turun di provinsi tersebut melebihi kapasitas penyimpanan waduk besar dan menengahnya lebih dari dua kali lipat.
Laporan media negara menyatakan bahwa DAS Sungai Hai, di mana lima sungai bertemu dan termasuk Hebei dan Beijing, sedang mengalami "proses evolusi banjir" dengan sistem rekayasa pengendalian banjirnya mengalami "uji paling berat" sejak banjir tahun 1996. Pada musim panas 1996, banjir besar di DAS Sungai Yangtze menewaskan sekitar 2.800 orang, merusak jutaan rumah, dan menenggelamkan lahan pertanian yang luas.
Otoritas di Hebei meningkatkan tingkat respons darurat bencana alam sementara Beijing tetap memberlakukan peringatan terkait tanah longsor di pinggiran kota tersebut.
Air banjir diperkirakan membutuhkan waktu hingga sebulan untuk surut di Hebei, di mana Zhuozhou adalah kota yang paling parah terkena dampaknya. Sekitar 100.000 orang di kota tersebut, yang berada di sebelah barat daya Beijing, telah dievakuasi, atau sekitar sepertiga dari total populasi kota tersebut.
China telah lama menyadari risiko banjir perkotaan, dengan urbanisasi cepat menciptakan perkotaan yang menutupi dataran banjir dengan beton. Cuaca ekstrem yang dipicu oleh pemanasan global semakin memperburuk situasi tersebut.
Pengamat cuaca nasional China memperingatkan bahwa curah hujan di provinsi-provinsi di Timur Laut bisa mencapai 50% lebih tinggi dari biasanya pada Agustus.