BOGOR, CEKLISSATU - Congklak merupakan salah satu permainan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Permainan yang mengandalkan strategi dan kemampuan berhitung ini masih dikenal hingga kini, meski popularitasnya mulai tergeser oleh permainan digital.
Di berbagai daerah, congklak memiliki nama yang berbeda-beda. Masyarakat Jawa mengenalnya sebagai dakon atau dhakon, sementara di Sumatra lebih populer dengan sebutan congklak atau congkak. Di Lampung permainan ini dikenal sebagai dentuman lamban, sedangkan di beberapa daerah Sulawesi memiliki nama seperti maggaleceng. Keberagaman nama tersebut menunjukkan bahwa permainan ini telah menyebar luas dan menjadi bagian dari tradisi di berbagai wilayah Nusantara.
Meski dikenal sebagai permainan tradisional Indonesia, sejumlah peneliti meyakini bahwa congklak bukan berasal dari Nusantara. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com dari Indonesia.go.id dan Warisan Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), congklak diduga berasal dari kawasan Timur Tengah sebelum berkembang di Afrika dan akhirnya menyebar ke Asia melalui jalur perdagangan. Permainan tersebut diperkirakan dibawa oleh pedagang Arab yang datang ke Nusantara untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama.
Baca Juga: Sisipkan Bawang Putih saat Menanak Nasi: Bantu Turunkan Kadar Gula Darah
Sejarah mencatat bahwa congklak telah dimainkan di wilayah Nusantara sejak masa berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam. Menurut catatan Het Dakonspel karya A. J. Resink-Wilkens, permainan ini awalnya dikenal luas di lingkungan istana dan kerap dimainkan oleh anak-anak perempuan dari kalangan bangsawan pada masa Kesultanan Mataram. Namun, para sejarawan menegaskan bahwa belum ada bukti yang menyatakan congklak berasal dari kebudayaan Jawa kuno. Yang dapat dipastikan adalah permainan tersebut dibawa oleh para pedagang Muslim dan telah berkembang pesat serta dimainkan pada periode tersebut.
Congklak dimainkan menggunakan papan yang memiliki 14 lubang kecil dan dua lubang besar di kedua ujungnya. Setiap pemain bergantian memindahkan biji-biji congklak ke lubang berikutnya hingga seluruh biji habis didistribusikan sesuai aturan permainan. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah biji yang berhasil dikumpulkan di lubang besar atau "lumbung" milik masing-masing pemain.
Selain menghibur, permainan ini juga memiliki nilai edukatif. Penelitian mengenai etnomatematika pada permainan congklak menunjukkan bahwa permainan tersebut mengandung berbagai konsep matematika, seperti operasi hitung, pola, refleksi, hingga pengenalan bentuk geometri. Karena itu, congklak dinilai dapat menjadi media pembelajaran yang melatih kemampuan berhitung, berpikir strategis, konsentrasi, serta kesabaran anak.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, keberadaan permainan tradisional seperti congklak mulai jarang dijumpai dalam aktivitas sehari-hari anak-anak. Padahal, selain menjadi bagian dari warisan budaya, permainan ini juga mengajarkan nilai sportivitas, strategi, serta interaksi sosial yang sulit diperoleh melalui permainan digital.
Siti Balqis Sari Manah