KOTA BOGOR, CEKLISSATU - Dalam upaya memperkuat sistem pangan Kota Bogor dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama Pemerintah Kota Bogor menyelenggarakan diskusi publik Pangan Kota Kita yang dihadiri 39 institusi disekitar Kota Bogor Selasa, 25 Februari 2025.
Forum diskusi yang menghadirkan Direktur Pangan dan Pertanian, BAPPENAS, Badan Pangan Nasional, BAPPERIDA Kota Bogor, dan pakar Sistem Pangan KRKP merupakan wadah untuk menyuarakan urgensi transformasi sistem pangan Kota Bogor.
Selain itu, kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pangan Kota Kita yang dilakukan KRKP bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor. Tujuanya untuk melakukan perubahan kebijakan pemerintah kota terkait sistem pangan dan penguatan keterlibatan generasi muda dalam mendorong perubahan sistem pangan kota dengan kewirausahaan hijau.
Baca Juga: Dedie Rachim dan Jenal Mutaqin Bakal Diarak ke Balai Kota Bogor
Ifan Martino, Direktorat Pangan dan Pertanian, Bappenas menyatakan bahwa pemerintah kota penting juga untuk ikut dan meratifikasi Milan Urban Food Policy Pact (MUFPP) sebagai salah satu bentuk komitmen mewujudkan kota dengan sistem pangan yang tangguh.
“Dalam National Strategic Pathway telah ada arah regionalisasi sistem pangan. Kerangka transformasi ini diharapkan mampu menguatkan sistem pangan yang lebih lokal dengan visi transformasi pangan sehat dan bernutrisi, inklusif, berkadilan, tangguh, berkelanjutan” ujarnya.
Baca Juga: RAD Pangan dan Gizi 2025-2029, Pemkot Bogor Gelar Konsultasi Publik
Sementara Ara Wiraswara, S.E, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, BAPPERIDA Kota Bogor mengungkapkan bahwa Kota Bogor telah meratifikasi MUFPP, sebagai bentuk keseriusan pemerintah Kota dalam mengelola sistem pangan perkotaan. Isu pangan bagi Kota Bogor sangat penting karena tantanga yang ada dan kekhasan yang dimilikinya.
“Kota Bogor telah berupaya mengidentifikasi kebutuhan pangan, cadangan pangan dan situasi pangan (gizi) Kota Bogor. Ini dilakukan karena ada beberapa isu strategis pangan Kota Bogor berkaitan erat dengan isu stunting yaitu: pengelolaan pedagang kaki lima (PKL), pemantauan harga & pasokan pangan, pengelolaan food loss dan food waste, pemenuhan konsumsi pangan yang beragam bergizi seimbang aman halal, serta integrasi tata kelola pangan” ungkapnya.
Nita Yulianis, M.Si, Direktur Kewasapadaan Pangan dan Gizi, Badan Pangan Nasional mengemukakn bahwa isu food loss dan food waste juga menjadi salah satu komponen yang perlu dikelola dalam sistem pangan perkotaan. Sub system ini menjadi salah satu tantangan yang ada saat ini karena belum banyak dilakukan. Namun demikian saat ini sudah mulai tumbuh berbagai inisiatif di berbagai kota mengangani soal ini.
Baca Juga: Pemkot Bogor Terus Berupaya Mengoperasikan Lagi Biskita, Presiden Prabowo Berkantor di Istana Bogor
“Penanganan limbah pangan sangat penting dan dapat melibatkan banyak pihak termasuk anak muda. Generasi muda dapat berperan dalam upaya penyelamatan pangan dalam mencegah dan mengurangi sisa pangan melalui 3 aksi: menjadi agen stop boros pangan, kampanye stop boros pangan dan membangun sinergi serta kolaborasi dengan para pihak” terangnya.
Adapun David Ardhian, Expert Board Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KKRP) menyatakan transformasi sistem pangan perkotaan di Kota Bogor tidak dapat dilepaskan dari konsep foodscape yaitu pola relasi antara pangan, lanskap dan kebudayaannya.
Globalisasi pangan perlu ditanggapi dengan bijaksana agar penduduk Kota Bogor tidak kehilangan foodscape tanpa sadar disetir oleh gaya hidup dan pola konsumsi global tanpa memiliki pemikiran kritis tentang sumber, manfaat dan dampak bahan pangan tersebut bagi kesehatan, gaya hidup dan kebudayaannya.

“Upaya penguatan system pangan dengan pendekatan foodscape menjadi pilihan KRKP yang saat ini dicoba di Kota Bogor melalui program Pangan Kota Kita. Dengan pendekatan ini kami mendorong gerakan generasi muda, kaum budayawan, akademisi, dan pemerintah serta para pihak lainnya bergerak untuk menjaga sistem pangan Kota Bogor agar tidak terbawa arus yang semakin menjauhkan kedaulatan pangan dari masyarakat Kota Bogor” pungkasnya.
Handy Purnama | **