BOGOR, CEKLISSATU.COM - Presiden Direktur Taman Safari Indonesia (TSI), Aswin Sumampau, mendorong Forum Konservasi Satwa Indonesia (FOKSI) melakukan transformasi menjadi organisasi yang lebih modern, relevan, dan solutif dalam menghadapi tantangan konservasi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Aswin saat memberikan sambutan dalam kegiatan OWAKA 2026 yang diadakan di TSI Bogor yang berlangsung selama tiga hari mulai Jumat-Minggu (21-23/8/2026). 

Menurutnya, semangat konservasi yang menjadi fondasi FOKSI sejak puluhan tahun lalu tetap penting, tetapi cara dan strategi perjuangannya perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Baca Juga: Tak Hanya Liburan, EIGER Nature Siapkan Ekowisata Dengan Konsep 7E, Padukan Konservasi dan Ekowisata Berkelanjutan

Aswin mengaku memiliki kedekatan emosional dengan FOKSI. 

Ia mengenal forum tersebut sejak masih kecil ketika kerap mengikuti sang ayah dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan para pegiat konservasi dan media.

“Saya mengenal FOKSI pada waktu saya masih kecil. Papa saya sering duduk bersama dengan para tokoh konservasi. Pribadi-pribadi yang unik, lucu, tetapi juga sangat kritis saat membahas permasalahan lingkungan,” ujar Aswin, Jumat (21/8/2026).

Baca Juga: Kado Kemerdekaan dari Alam, Elang Jawa Kembali Menetas di Taman Safari Bogor

Menurutnya, forum tersebut pada masa lalu tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk menyampaikan kritik kepada regulator dan pemerintah. 

Berbagai pandangan yang muncul bahkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.

Namun, Aswin menilai perubahan zaman membuat FOKSI perlu menemukan kembali bentuk dan perannya.

Meski demikian, ia menegaskan persoalan konservasi yang dihadapi Indonesia hingga kini masih memiliki tantangan yang sama. 

Baca Juga: Perdana di 2026, Sunset di Kebun Raya Bogor Padukan Musik, Alam dan Kampanye Konservasi

Penurunan fungsi hutan, berkurangnya populasi spesies, hingga ancaman kepunahan satwa langka masih menjadi pekerjaan besar.

Karena itu, Aswin menggagas lahirnya FOKSI 2.0, yakni FOKSI yang modern, relevan, dan mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan konservasi.

Ia mendorong FOKSI untuk merumuskan kembali jati diri, visi, misi, serta strategi yang tajam, realistis, dan dapat dikerjakan secara bersama-sama.

Baca Juga: Komitmen Jaga Kawasan Konservasi, Pemkab Bogor bersama Kemenhut Perkuat Sinergi

Salah satu peran yang dinilai strategis adalah menjadikan FOKSI sebagai pilar edukasi konservasi bagi masyarakat Indonesia.

Aswin menilai, selama ini sudah banyak organisasi yang fokus menyuarakan kerusakan hutan maupun berbagai persoalan lingkungan. 

Karena itu, FOKSI menurutnya tidak harus mengambil ruang yang sama, melainkan dapat memperkuat sisi edukasi.

Baca Juga: Ikon Baru Konservasi dan Edukasi Kabupaten Bogor, Bupati Rudy Susmanto Hadirkan Bogor Bird Zoo di Pakansari

“FOKSI bisa memberikan edukasi konservasi kepada anak-anak mulai dari SD sampai mahasiswa. Mendorong artikel-artikel edukatif dan positif mengenai pentingnya konservasi kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Ia berharap pendekatan edukasi tersebut mampu membangun kesadaran konservasi sejak usia dini, sehingga kepedulian terhadap satwa dan lingkungan tidak hanya menjadi isu kelompok tertentu, tetapi menjadi bagian dari kesadaran masyarakat secara luas.

Aswin juga menegaskan, TSI siap mendukung proses pembentukan FOKSI 2.0. Dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk penyediaan fasilitas, tetapi juga sumber daya pengetahuan, tenaga ahli, pengalaman, serta jaringan yang dimiliki TSI.

Baca Juga: Heboh! Macan Tutul Terperangkap Jerat di Gunung Mas Bogor, BKSDA dan Taman Safari Turun Tangan

“Dengan pengalaman selama sekitar 45 tahun di sektor riil dan konservasi, TSI siap memberikan dukungan dalam berbagai bidang, mulai dari konservasi, legal, keuangan hingga jaringan internasional dan pemerintahan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia berharap FOKSI ke depan mampu tumbuh sebagai lembaga yang independen, kuat, dan mandiri. FOKSI diharapkan menjadi ruang diskusi sekaligus corong komunikasi mengenai isu konservasi di Indonesia.

Tak hanya itu, Aswin melihat FOKSI memiliki peluang untuk ikut mendorong lahirnya regulasi pemerintah yang lebih berpihak terhadap kepentingan konservasi, sehingga kebijakan pembangunan tidak semata-mata mempertimbangkan aspek ekonomi.

Baca Juga: Ada Suspension Bridge hingga Forest Camp, EIGER Nature Siap Jadi Destinasi Petualangan Baru di Bogor

“Potensi FOKSI bisa mendorong pembuatan regulasi di dalam pemerintahan yang pro kepada konservasi, bukan hanya melihat sisi ekonomi saja,” tegasnya.

Aswin berharap OWAKA 2026 menjadi momentum penting untuk merumuskan arah baru FOKSI. Ia optimistis forum tersebut dapat melahirkan gagasan-gagasan besar yang memberikan dampak nyata bagi upaya pelestarian satwa dan lingkungan di Indonesia.

“TSI akan mendukung, bukan hanya dari fasilitas tempat, tetapi juga dari sisi pengetahuan, network, keahlian dari sisi legal, keuangan, dan lainnya yang FOKSI perlukan untuk bertumbuh dengan cepat,” pungkasnya.