BANDUNG, CEKLISSATU -Selain melakukan Pertemuan Ilmiah Nasional Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat terjun ke tengah tengah masyarakat mesosialisakan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis salah satunya pengobatan gendang telinga yang banyak disepelekan.
Ketua Panitia PIN IDI Jabar Dr. Eva Noviani Lestari, Sp.PD., MMRS., MH.Kes mengatakan, pertemuan ilmiah ini mengajak para dokter untuk melihat perubahan pelayanan kesehatan yang kini semakin menekankan aspek preventif dan rehabilitatif, selain kuratif.
"Saat ini kesehatan itu pelayanannya bergeser ya. Jadi tidak hanya masalah kuratif tapi juga rehabilitatif dan preventif," kata dr. Eva.
Menurutnya, perubahan teknologi dan gaya hidup masyarakat menjadi tantangan baru yang perlu dipahami dokter.
Karena itu, dokter juga dituntut dapat menjadi contoh dalam menerapkan pola hidup sehat.
"Bagaimana dokter itu juga harus menjadi role model dalam menunjukkan bagaimana pola hidup yang sehat," ujarnya.
Penerapan pendekatan preventif juga dibawa dalam bakti sosial di Soreang, Kabupaten Bandung, dengan sasaran lebih dari 200 masyarakat.
Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan tekanan darah, pengobatan, pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan dan pembersihan telinga, serta khitanan massal.
Pemeriksaan telinga menjadi salah satu kegiatan yang menarik karena berkaitan langsung dengan materi workshop yang diberikan kepada dokter dalam rangkaian PIN.
dr. Eva mengatakan, pembersihan telinga merupakan salah satu layanan yang cukup banyak ditemui dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
"Kadang masyarakat kita belum terlalu paham keluhan-keluhan yang bisa memengaruhi ke telinga, ada penurunan pendengaran itu apa saja penyebabnya," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, pihaknya mengajak masyarakat untuk sadar terhadap deteksi dini.
"Sebetulnya pentingnya deteksi dini tentunya bukan hanya permasalahan THT. Jadi, di pemeriksaan ini juga ada pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang sudah menjadi program khusus dari pemerintah," ujar Eva.
Menurutnya, masyarakat perlu mulai mengetahui kondisi kesehatannya sebelum muncul keluhan yang lebih serius.
"Bagaimana tekanan darah, kemudian bagaimana gula darah, bagaimana kesehatan jantung. Itu sebetulnya kita harus sudah mulai mengetahui adanya kelainan-kelainan tersebut," katanya.
Ketua IDI Wilayah Jawa Barat Dr. dr. Mohamad Luthfi, Sp.PD., Subsp.HOM(K)., FINASIM., MM.RS., FISQua mengatakan, tuntutan tersebut sejalan dengan kebutuhan dokter untuk terus memperbarui pengetahuan.
Dia menjelaskan, PIN IDI Jawa Barat 2026 menjadi kegiatan tersebut diisi dengan pembaruan ilmu kedokteran, presentasi poster, serta pembahasan mengenai dinamika pelayanan dan kebijakan kesehatan.
"Perkembangan ilmu pengetahuan semakin dinamis. Jadi kita mencoba meng-upgrade kembali sesuai perkembangan ilmu pengetahuan yang ada," kata dr. Luthfi.
"Di sisi lain juga kita ingin memberikan masukan terhadap dinamika regulasi yang ada, baik itu dinamika pelayanan, kemudian pembiayaan kesehatan, dan juga permasalahan-permasalahan kesehatan masyarakat," tambahnya