BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Rencana pembangunan pagar baru di kawasan Gedung Sate yang disebut-sebut mengadopsi konsep arsitektur “kerajaan” atau menyerupai gerbang candi bentar mendapat kritik tajam dari DPRD Jabar.

Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar, Zaini Shofari menilai, desain tersebut tidak sesuai dengan sejarah arsitektur Gedung Sate maupun filosofi bangunan yang sudah berdiri sejak 1924 itu.

Ia menjelaskan, bahwa pagar yang saat ini dibangun menurut diskominfo disebut Candi Bentar, namun istilah Candi Bentar sendiri memiliki makna khusus dalam bahasa Sanskerta, yakni terbelah.

Baca Juga: Gubernur Jabar Umumkan Pos Pelayanan Pengaduan di Gedung Sate Resmi Dibuka, Fokus Kesehatan, Pendidikan, Hukum

Menurutnya, gerbang Candi entar selalu memiliki dua sisi yang simetris dan lurus, sebagai simbol pemisah antara ruang luar dan ruang dalam.

Model itu banyak ditemukan di Jawa, termasuk di Keraton Kesepuhan dan berbagai bangunan bercorak Hindu-Jawa.

“Kalau di candi bentar itu, bentuknya utuh terpisah dua sisi. Sedangkan pintu masuk Gedung Sate itu utuh, tidak terbelah. Jadi kalau mau memakai istilah candi bentar, itu tidak tepat menempatkannya di Gedung Sate.” kata Zaini, Jumat (21/11/2025).

Baca Juga: Belasan Pemuda Sukamulya Long March ke Gedung Sate Bandung, Tuntut Penyelesaian Konflik Agraria

Lebih Lanjut, Zaini mengatakan, Gedung Sate sendiri dibangun pada tahun 1924 dengan gaya arsitektur Indo-Eropa yang memadukan unsur Hindu dan Islam.

Bagian atasnya memiliki enam tusuk sate yang melambangkan 6 juta gulden anggaran pembangunan kala itu.

“Di bawahnya terdapat tiga umpak yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Struktur bangunannya juga dipengaruhi desain arsitektur Alhambra peninggalan Bani Umayyah di Granada, Spanyol,” kata Zaini.

Baca Juga: Kasus Dugaan TPPO Remaja Asal Dayeuhkolot Temukan Titik Terang, BP3MI Pastikan Korban Aman di KBRI Kamboja

Lebih lanjut kata Zaini, bangunan Gedung Sate sendiri memiliki pilar-pilar bulat, jendela khas, dan ornamen yang sarat simbol.

Karena itu, DPRD Jabar menilai bahwa pagar baru seharusnya mengikuti karakter arsitektur Gedung Sate, bukan sekadar dibuat berdasarkan ide mendadak tanpa kajian mendalam.

“Kalau tiba-tiba ada pagar dengan bentuk yang tidak sesuai, apalagi dengan warna putih-merah yang kontras dengan Gedung Sate, itu akan merusak estetika keseluruhan,” tegasnya.

Baca Juga: Dari Tas hingga Aksesori, UMKM Puka Creative House Tunjukkan Potensi Besar Pengrajin Disabilitas di Bandung

Selain persoalan estetika dan sejarah, Zaini juga mempertanyakan urgensi pembangunan pagar tersebut.

Dengan anggaran mencapai Rp3,9 miliar mereka menilai proyek tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan mendesak masyarakat.

Ia menyinggung perbandingan anggaran: bantuan untuk santri miskin hanya dialokasikan Rp5,1 miliar selisih sedikit dengan anggaran pagar yang mencapai miliaran rupiah.

Baca Juga: Musikaliterasi Hadirkan Pengalaman Membaca yang Interaktif bagi Warga Bandung, Hidupkan Minat Baca Sejak Dini

“Jadi sepenting itukah ornament pagar? Apa lebih penting pagar daripada mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk membantu para santri?” ujarnya.

“Apalagi anggaran untuk sarana keagamaan pada 2025 ini sudah dipangkas drastis, dari Rp153 miliar menjadi tinggal Rp5,1 miliar,” imbuhnya.

Zaini mengatakan, DPRD menegaskan bahwa proyek sebesar itu harus memiliki kajian arsitektur, sosial, budaya, dan historis yang matang.

Baca Juga: Bandung Darurat Sampah Nasional, Tumpukan Menggunung di Sejumlah Titik

Pembangunan pagar tidak boleh hanya berorientasi pada estetika, apalagi jika desainnya bertentangan dengan filosofi bangunan bersejarah seperti Gedung Sate.

“Ini bukan soal pagar saja, tapi soal menghormati sejarah, estetika, dan prioritas anggaran publik,” tutupnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barar Dedi Mulyadi mengatakan, bahwa pembangunan pagar tersebut sudah sesuai kajian arsitek.

Baca Juga: 289 Rumah di Tiga Kecamatan di Bandung Rusak Akibat Puting Beliung, Pemkot Siaga 24 Jam Tangani Dampak

“Jangan ngikutin netizen, kita ngikutin arsitek. Kalau ngikutin netizen gak akan selesai selesai, nanti banyak versinya. Tapi banyak juga netizen yang memuji ko, ngak ada masalah,” kata Dedi Mulyadi.