BOGOR, CEKLISSATU - Dibalik narasi perempuan merokok adalah simbol kebebasan terdapat sejarah panjang tentang bagaimana industri tembakau memanfaatkan gerakan feminisme untuk memperluas pasar mereka. Tentang bagaimana kisah yang mengubah cara kita memandang hubungan antara konsumsi, identitas, dan perjuangan kesetaraan yang berkembang pesat pada stigma masyarakat.

Sejak pertengahan abad ke-19, rokok telah menjadi medan pertaruhan simbolik yang menarik. Aset foto Lola Montez di Boston yang dianggap sebagai simbol perlawanan dan emansipasi perempuan hingga kampanye propaganda paling masif abad ke-20 yang mengubah kebiasaan merokok perempuan menjadi ikon kebebasan. Di Amerika Serikat dan Eropa, rokok cukup identik dengan keperkasaan laki-laki, seolah ini menjadi simbol akan kesuksesab, kekuasaan, dan kejantanan. Sementara perempuan yang merokok dianggap "perempuan jalang", tidak bermoral, atau bahkan pelacur. Stigma ini begitu kuat hingga pada 1908, seorang perempuan di New York ditangkap hanya karena menghisap rokok di depan umum. Di sisi lain dunia, situasi serupa juga terjadi. Di China urban pada awal abad ke-20, merokok di tempat umum juga merupakan aktivitas yang didominasi laki-laki. Perempuan hanya boleh merokok di rumah dengan pipa air, bukan di ruang publik dengan rokok.

Namun, ketika industri rokok mulai menyasar perempuan secara massif, mereka menciptakan produk khusus untuk segmen tersebut dengan tampilan rokok berbentuk ramping, panjang, dengan rasa lebih ringan. Dengan begitu, perempuan sebagai konsumen merasa dirinya diperlakukan sebagai individu, padahal perbedaan yang diciptakan industri rokok hanya menyangkut hal-hal minor.

Baca Juga: Pakar Paru FKUI Sebut Puasa 12 Jam Latihan Alami Berhenti Merokok dan Vape

Bentuk-bentuk rokok perempuan justru mengembalikan perempuan pada standar citra patriarkal seperti feminin, domestik, mencari perhatian laki-laki melalui sensualitas. Namun, semua imaji tentang kebebasan itu dijalani dan dirayakan kaum perempuan dengan penuh suka cita, tanpa sadar bahwa mereka terperangkap ke dalam kubangan konsumsi yang diciptakan industri rokok.

Kampanye ini adalah contoh sempurna tentang bagaimana kapitalisme dapat mengkooptasi gerakan sosial dan mengubahnya menjadi alat komersial. Rokok, yang bagi kaum feminis adalah simbol perlawanan terhadap patriarki, diubah oleh industri rokok menjadi komoditas yang menjanjikan kebebasan, melainkan sebenarnya hanya mengikat perempuan pada konsumsi dan, pada akhirnya, pada risiko kesehatan yang serius.

Sumber: historia.id , padekjawapos.com , jurnalperempuan.org

Ade Pramitha