Ia menilai, jika penonton di Indonesia terus dibiarkan menikmati film yang tidak sesuai dengan klasifikasi usia yang telah ditetapkan. Maka, nantinya akan berdampak buruk terhadap pemikiran yang menontonnya.

"Sebagai contohnya seperti kasus di Sukabumi saat anak 9 tahun membakar 13 rumah karena terobsesi menonton film, itu bukti bahwa literasi tontonannya yang rendah," terangnya.

Baca Juga: Film “Cocote Tonggo” Masuk Nominasi Festival Film Wartawan 2025

"Jadi, menonton film yang sesuai dengan usia itu adalah bagian penting dari budaya menonton," pungkasnya.