JAKARTA, CEKLISSATU – Perkembangan era digital yang semakin pesat membuat penggunaan media sosial juga tak lepas dari kehidupan.
Dalam mengekspresikan perasaan di media sosial, etika menjadi sesuatu yang harus selalu dikedepankan.
Dulu kita mengenal peribahasa ‘mulutmu harimaumu’, Namun di tengah merebaknya media sosial, peribahasa tersebut telah bergeser menjadi ‘jarimu harimaumu’.
Baca Juga : Ditetapkan Tersangka, Johnny G Plate Ditahan 20 Hari
Content Creator and Social Media Specialist, Vichela Regina mengatakan, bahwa bermedia sosial juga memerlukan etika.
Penerapan etika dalam bermedia sosial di antaranya: penggunaan komunikasi yang baik, tidak mengandung aksi kekerasan pornografi dan sara, menyampaikan informasi yang benar, menghargai karya orang lain, dan memberikan informasi pribadi sewajarnya.
“Dengan mengetahui etika dan bijak dalam bersosial media dapat membuat kita menjadi tahu batasan dan lebih bertanggung jawab dalam bermedia sosial. Jangan sampai kita menyesal dengan apa yang kita lakukan di media sosial,” kata dia dalam webinar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema Jarimu Harimaumu, Rabu 17 Mei 2023.
Ketua Dewan Kehormatan PWI Lampung, Iskandar Zulkarnain mengatakan, kecakapan literasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas, cermat, serta tepat sesuai kegunaannya.
Menurut dia, pada dasarnya setiap manusia perlu berkomunikasi. Manusia juga perlu bahkan sesekali haus akan informasi. Smartphone merupakan platform informasi digital pilihin utama karena mampu mendapatkan informasi sekaligus juga berkomunikasi.
Dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula jenis-jenis media massa. Dari media tradisional yang bersifat analog, menjadi media baru yang bersifat digital. Maka, ruang berekspresi publik pun menjadi lebih beragam.
Dia mengatakan tantangan Literasi Digital di Indonesia yaitu, arus informasi yang banyak (banjir informasi), peredaran informasi palsu (hoaks), konten negatif dan memecah belah.
“Memahami literasi media dapat menjadikan kita sebagai individu yang melek media. Artinya bahwa kita menjadi pribadi yang paham, berpengetahuan luas, mampu menganalisis, menilai, dan mampu untuk berpendapat secara kritis atas informasi atau pesan media yang kita dapat,” kata Iskandar.
“Ke depan, kita dapat senantiasa mengambil sikap atas sebuah isu atau permasalahan tertentu secara bijak dan tidak mudah terbawa arus dan tergiring opininya menuju hal yang bersifat negatif,” imbuhnya.
Sementara itu Anggota Komisi I DPR, Mukhlis mengatakan, bahwa manusia saat ini berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif di dunia maya dalam era digitalisasi, meskipun pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan interaksi di dunia nyata.
“Menjaga etika di dunia maya sangat penting untuk menghindari risiko dan konsekuensi negatif,” ujar dia.
Ada beberapa hal yang harus di perhatikan ketika kita berinteraksi di dunia maya antara lain: menjaga privasi orang lain, menghindari perdebatan, mengusai media sosial.
“Dalam dunia maya, tindakanmu menggambarkan dirimu, jadi pastikan setiap postinganmu memiliki nilai, memberikan manfaat, dan edukatif bagi pembacanya, karena apa pun yang kita posting dapat memengaruhi integritas diri kita,” tutup Mukhlis.