JAKARTA,CEKLISSATU - Ribuan warga Armenia di Nagorno-Karabakh pada Rabu 20 September 2033, mengungsi di bandara tempat kamp basis penjaga perdamaian Rusia setelah pasukan separatis setuju untuk gencatan senjata usai menyerah kepada Azerbaijan.

Para pemimpin separatis yang menjalankan "Republik Artsakh" yang autoproklamasi mengimbau penduduk yang berjumlah 120.000 orang untuk tidak terburu-buru menuju bandara di ibu kota yang mereka sebut Stepanakert.

"Kami sekali lagi mengimbau penduduk Stepanakert untuk tidak terpancing panik dan tidak pergi ke bandara dengan inisiatif sendiri untuk dievakuasi," kata separatis.

Gambar-gambar dari Karabakh menunjukkan ribuan orang di bandara, beberapa di antaranya membawa anak-anak kecil.

Pemimpin separatis secara berulang kali menuduh Azerbaijan ingin membersihkan etnis Karabakh. Baku menolak tuduhan tersebut dan mengatakan akan melindungi hak-hak warga Armenia etnis di wilayah tersebut sesuai dengan konstitusi mereka sendiri.

Orang Armenia, yang beragama Kristen, mengklaim dominasi sejarah yang panjang di wilayah tersebut, yang bermula berabad-abad sebelum Masehi.

Azerbaijan, yang penduduknya sebagian besar Muslim, juga mengaitkan identitas sejarahnya dengan wilayah tersebut. Mereka menuduh orang Armenia mengusir orang Azerbaijan yang tinggal di dekat sana pada tahun 1990-an. Mereka ingin mendapatkan kendali penuh atas wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan.

Menurut perjanjian gencatan senjata, perwakilan Armenia di Karabakh dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada hari Kamis dengan otoritas Azerbaijan.

Rusia mengatakan pasukannya sedang melaksanakan peran mereka.

Moskow mengatakan ada 2.261 orang, termasuk 1.049 anak-anak, yang berlindung di kamp basis penjaga perdamaian mereka.