BOGOR, CEKLISSATU.COM - Sampah yang selama ini dianggap tak bernilai kini bisa menjadi sumber cuan bagi warga Kota Bogor.
Arah kebijakan penanganan persampahan Kota Bogor dari hulu hingga hilir semakin jelas dengan penguatan ekosistem pengelolaan sampah yang dibangun secara berkelanjutan.
Di sektor hilir, sampah Kota Bogor nantinya akan diolah melalui Waste to Energy Plant atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang saat ini tengah dalam proses pembangunan.
Baca Juga: Dari Cerita Desa hingga Isu Sampah, 22 Film Anak Bogor Unjuk Karya di FFKB 2026
Untuk memperkuat ekosistem penanganan persampahan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga terus mendorong pengelolaan sampah di sektor hulu dengan membangun kebiasaan masyarakat dalam mengolah dan memilah sampah dari sumbernya.
Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui penyediaan Waste Station Rekosistem yang berlokasi di Balai Kota Bogor.
Fasilitas Waste Station menjadi tempat penukaran sampah yang memiliki nilai ekonomi dalam bentuk reward berupa uang.
Baca Juga: PSEL Bogor Raya 1 Mulai Dibangun, 1.500 Ton Sampah Bogor Bakal Diolah Jadi Listrik
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim mengatakan, keberadaan Waste Station tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah dan menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya.
"Jadi memang ini harus kita upayakan juga melalui pembangunan manusianya. Sehingga permasalahan persampahan bisa diselesaikan untuk Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)," ujar Dedie Rachim, dikutip Minggu (27/9/2026).
Keberadaan Waste Station Rekosistem merupakan hasil kolaborasi antara Pemkot Bogor, Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Baca Juga: Bukan Sekadar Buang Sampah, Teknologi Pirolisis TPA Galuga Bogor Bakal Olah 1.000 Ton Jadi BBM
Menurut Dedie Rachim, berbagai langkah dalam membangun ekosistem penanganan persampahan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan menjaga bumi Indonesia untuk generasi mendatang.
"Mudah-mudahan melalui Waste Station Rekosistem ini terus digelorakan untuk menjadikan Indonesia hijau dan ASRI. Kesadaran mengelola sampah dari hulu ke hilir juga terus diberikan porsi yang cukup besar untuk menjaga lingkungan," ungkapnya.
Dengan adanya PSEL di sektor hilir, masyarakat tetap memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Baca Juga: Pelayanan Persampahan di TPAS Galuga Berjalan Normal, 128 Truk Masuk Bergiliran
Kebiasaan memilah sampah diharapkan tumbuh secara bertahap, sehingga menjadi budaya menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
CEO dan Co-Founder Rekosistem, Ernest Christian Layman mengatakan, keberadaan Waste Station ini merupakan tindak lanjut dari kepedulian Wali Kota Bogor dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui berbagai langkah yang telah dilakukan.
"Harapannya ini bisa mendukung Wali Kota Bogor dan Pemkot Bogor untuk membangun budaya masyarakat memilah sampah dari sumbernya. Karena yang terpenting bukan hanya infrastruktur, tetapi bagaimana masyarakat bisa ikut terlibat untuk mengelola sampahnya dengan baik," kata Ernest.
Baca Juga: Sampah di Situ Citatah Jadi Sorotan, Camat Cibinong Siapkan Aksi Bersih-Bersih
Melalui Waste Station tersebut, pihaknya mengajak masyarakat tidak hanya memilah sampah, tetapi juga mendapatkan apresiasi melalui sistem poin.
Setiap sampah yang disetorkan masyarakat akan memiliki nilai reward point yang dapat dikonversi menjadi saldo dan dimasukkan ke dalam dompet digital maupun rekening bank.
"Setiap jenis sampah memiliki nilai poin yang menjadi reward bagi masyarakat. Jenis sampahnya mulai dari plastik, botol plastik, sachet, hingga bungkus kemasan low value yang selama ini dianggap tidak bernilai. Seperti bungkus mi instan atau sachet deterjen juga memiliki nilai. Sampah elektronik, minyak jelantah, kardus, kertas, logam, hingga botol kaca juga bisa disetorkan," jelas Ernest.
Baca Juga: Tumpukan Sampah Kabupaten Bogor Punya Masa Depan Baru, Bakal Diolah Menjadi BBM dan Energi Listrik
Nilai reward yang diberikan bervariasi, mulai dari Rp100 hingga Rp6.000 per kilogram, tergantung jenis sampah yang disetorkan.
Ke depan, apabila antusiasme masyarakat meningkat dan kebiasaan memilah sampah semakin konsisten, nilai poin tersebut akan terus dikembangkan.
Dengan demikian, ekosistem persampahan dari hulu hingga hilir dapat terbangun sekaligus memberikan dampak terhadap ekonomi sirkular masyarakat.