BOGOR, CEKLISSATU - Karang Taruna Kelurahan Kedung Badak menyelenggarakan Musyawarah Warga Karang Taruna (MWKT), di aula Kecamatan Tanah Sareal, pada Minggu, 23 November 2025. Dalam Musyawarah itu, Gilang P Setiana terpilih sebagai ketua baru masa bakti 2026-2031.

Dalam acara tersebut, Ketua Karang Taruna Kota Bogor, Asep Nadzarullah menyampaikan bahwa, Ketua Karang Taruna Terpilih harus rendah hati, berkomunikasi dengan Ketua-ketua RW di Kedung Badak. Selain itu harus bermitra dengan Lurah, meminta masukan dari Kasi Pemerintahan untuk bisa mendorong kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Lurah Tegallega Hardi Suhadirman Harap Karnaval Budaya Karang Taruna Bakal Jadi Agenda Tahunan Kota Bogor

“Sehingga Karang Taruna nanti bisa membantu mendorong kesejahteraan masyarakat,” tambah Asep dalam sambutannya.

MWKT tersebut dihadiri oleh sebanyak 9 perwakilan pengurus RW dari 14 RW di Kelurahan Kedung Badak. Sebanyak 9 perwakilan tersebut memberikan Rekomendasi kepada Saudara Gilang P Setiana sebagai Calon Ketua Karang Taruna Kelurahan Kedung Badak.

Dengan persyaratan yang telah ditentukan panitia, verifikasi calon ketua Karang Taruna harus mendapatkan minimal 1/3 jumlah suara peserta utusan. Dengan demikian, Gilang P Setiana dinyatakan sebagai calon tunggal yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Karang Taruna Kelurahan Kedung Badak masa bhakti 2026 – 2031.

Baca Juga: Karang Taruna Tegallega Bogor Tampilkan Karnaval Budaya untuk Peringati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan

Dalam penyampaian Visi – Misi, Gilang ingin menjadikan Karang Taruna Kedung Badak yang ber-Daya Guna, ber-Martabat, dan ber-Manfaat bagi Masyarakat. Adapun program kerja yang diprioritaskan berjalan pada periode masa baktinya adalah sektor pendidikan, ekonomi/ pengembangan usaha, dan sosial kemasyarakatan.

“Pengurus Karang Taruna Kedung Badak ke depan harus berperan aktif menjadi motor penggerak dalam mengentaskan permasalahan kepemudaan di wilayah, seperti; Tingginya angka pengangguran, tawuran antara kelompok, konsumsi narkoba, dan fanatisme terhadap sosmed yang tidak produktif,” jelas Gilang.