Program ini dirancang secara terintegrasi sejak awal. Selain adanya kepastian pasar melalui kontrak pembelian hasil panen dengan eksportir sebelum masa tanam, petani juga memperoleh dukungan pendanaan dari DT Peduli untuk modal usaha dan aset produksi. Di sisi lain, IPB University memberikan pendampingan teknis sesuai standar mutu ekspor, sementara penguatan kelembagaan dilakukan melalui pembentukan kelompok usaha tani.
Bagi IPB University, program tersebut juga menjadi Living Lab, yakni sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu di lapangan. Pada tahap awal, tim melakukan asesmen terhadap lahan seluas 1,5 hektare dan memetakan kondisi sosial ekonomi 10 petani yang terlibat sebagai dasar penyusunan indikator keberhasilan program.
Selanjutnya, para petani akan mengikuti pelatihan budidaya, pendampingan pascapanen, hingga persiapan pengiriman hasil panen perdana sesuai jadwal yang telah disepakati bersama buyer.
Salah seorang petani binaan Kampoong Ecopreneur di Leuwisadeng, Saepuloh, mengaku optimistis program tersebut dapat meningkatkan kemampuan dan pendapatannya.
"Alhamdulillah kami dibimbing, jadi punya harapan dan peluang mendapatkan penghasilan tambahan. Saya juga senang karena mendapat ilmu untuk mengolah lahan," kata Saepuloh.
Melalui kolaborasi antara lembaga sosial, dunia akademik, dan pelaku usaha, program ini diharapkan mampu membuka akses pasar ekspor bagi petani lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan.