JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Harga pangan di Jakarta terancam naik seiring potensi El Nino 2026, DPRD DKI mendesak BUMD pangan memperkuat peran sebagai pengendali harga agar tetap stabil dan tidak membebani masyarakat.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M Taufik Zoelkifli menilai, Pemprov DKI perlu memperkuat peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan dalam menjaga stabilitas harga pangan, terutama di tengah ancaman fenomena El Nino Godzila yang diprediksi berlangsung pertengahan April hingga Oktober 2026.

Menurut dia, BUMD seperti Food Station tidak cukup hanya berfungsi sebagai pedagang beras, tetapi harus bertransformasi menjadi penjaga stabilitas harga (price stabilizer).

Baca Juga: Siap Hadapi El Nino, Pemerintah Pastikan Ketahanan Pangan Kuat, Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah

"BUMD pangan jangan hanya jadi trader, tapi harus berperan sebagai pengendali harga pangan agar tetap stabil di masyarakat," ujarnya dikutip Minggu (19/4/2026).

Taufik menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat cadangan pangan daerah. 

Namun, cadangan tersebut tidak boleh bersifat pasif, melainkan harus dikelola secara dinamis dan taktis.

Saat harga pangan mulai naik, cadangan pangan harus segera dilepas ke pasar. 

Baca Juga: Kena Dampak El Nino, 100 Warga Kota Bandung Dapat Bantuan Pangan 

Sebaliknya, ketika harga turun, stok dapat ditahan untuk menjaga keseimbangan.

"Cadangan pangan daerah harus aktif. Ketika harga naik, kita intervensi dengan melepas stok, dan saat harga turun kita tahan," jelasnya.

Selain itu, Taufik mendorong adanya kontrak pasokan jangka menengah dengan daerah produsen. 

Baca Juga: Peringatan HKPS, Dorong Keamanan Pangan Cegah Potensi Penyebaran Penyakit

Langkah itu penting agar Jakarta tidak bergantung pada mekanisme pasar sesaat (spot market), terutama saat terjadi kelangkaan.

Dengan skema tersebut, pasokan beras dapat dipastikan bahkan sebelum masa panen tiba.

"Jadi sebelum panen, kita sudah punya kepastian pasokan melalui kerja sama dengan daerah produsen. Ini untuk menghindari rebutan barang di pasar saat kondisi krisis," katanya.

Baca Juga: Alami Gagal Panen, Dua Poktan di Ciawi Diupayakan Dapat Asuransi 

Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pasokan pangan. 

Jakarta, kata dia, tidak boleh bergantung pada satu daerah produksi saja, melainkan harus memiliki alternatif dari berbagai wilayah.

"Kalau satu daerah mengalami gagal panen atau kekeringan, kita masih punya pasokan dari daerah lain," ungkapnya.

Baca Juga: Hasil Panen Terancam Berkurang, Pemkab Bogor Prediksi Kekeringan Hebat Dampak El Nino

Di sisi hilir, distribusi pangan perlu diperkuat melalui perluasan operasi pasar murah serta pemanfaatan sistem distribusi digital guna menekan spekulasi harga.

Pada akhirnya, Taufik menegaskan, bahwa sistem pangan Jakarta harus bertransformasi dari yang bersifat reaktif menjadi lebih antisipatif dan adaptif.

"Jakarta tidak boleh hanya reaktif. Kita harus membangun sistem pangan yang antisipatif dan adaptif terhadap berbagai tantangan, termasuk El Nino," tutup dia.