KOTA DEPOK, CEKLISSATU.COM -- Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Timor Leste mendorong adanya riset guna mengoptimalkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam memperkuat pelayanan kesehatan mental di masyarakat.
 
Dalam forum ilmiah internasional yang digelar di Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Sasono Harbuwono, serta Wakil Menteri Kesehatan Timor Leste Dr. Flávio Brandão M. de Araújo menyampaikan gagasan kedua negara tersebut.
 
Keduanya menegaskan perhatian negara terhadap perkembangan isu kesehatan mental dan transformasi digital kesehatan yang kini menjadi tantangan lintas negara.

Baca Juga: Musrenbang 2027 Kertamaya Bogor Prioritaskan 2 Bidang Ini, Lurah Mega: Pendidikan Jadi Kunci Pembangunan

"Pembangunan kesehatan saat ini perlu menempatkan aspek promotif dan preventif sebagai prioritas kebijakan, khususnya terkait kesehatan mental," ungkap Dante Saksono dalam keterangan resminya.

"Tantangan gangguan kesehatan mental tidak dapat ditangani hanya melalui layanan kuratif, tetapi juga memerlukan penguatan dari lingkungan keluarga, pendidikan, serta komunitas," tambahnya.
 
Pemerintah Indonesia pun terus mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana perluasan edukasi kesehatan dan akses layanan psikologis bagi masyarakat.

Baca Juga: Wakil Wali Kota Bogor Resmikan Gedung Baru SDN 3 Cimahpar
 
Sementara itu, Flavio Brandao juga menegaskan hal serupa. Dia mengatakan, Timor Leste kini juga menghadapi tantangan penguatan kesehatan mental berbasis komunitas pascakemerdekaan. 

"Kecerdasan buatan dipandang sebagai instrumen pendukung yang menjanjikan bagi skrining dini dan intervensi awal, khususnya di wilayah dengan keterbatasan tenaga kesehatan dan infrastruktur layanan," terangnya.

Pembahasan mendalam terkait pemanfaatan teknologi digital tersebut mengemuka secara komprehensif pada forum yang menghadirkan tiga pakar internasional dari Malaysia, Amerika Serikat, dan Timor Leste. 

Baca Juga: Tim Mahasiswa Vokasi UI Raih Juara 3 Public Relations Campaign di Commweek Undip 2025

Forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara tentang penguatan teknologi dalam implementasi sistem kesehatan modern tanpa mengesampingkan aspek kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.
 
Dr. Hazli Zakaria dari Malaysia memaparkan bagaimana kecerdasan buatan berkembang pesat dan menjadi alat bantu penting pada layanan kesehatan mental. 

"AI mampu mendukung proses skrining awal, analisis pola perilaku, hingga personalisasi terapi berbasis data," tuturnya.

Baca Juga: Melalui ISS 2025, Kemdiktisaintek Buka Kolaborasi Kembangkan Kampus dan Sains Selaras dengan Ekosistem Olahraga
 
Menurut dia, teknologi memungkinkan percepatan akses layanan kesehatan mental yang selama ini kerap terkendala oleh keterbatasan tenaga profesional. 

"Peran empati, komunikasi terapeutik, serta hubungan manusia tetap menjadi inti dari pelayanan kesehatan mental yang bermutu," jelasnya.

Kemudian, Prof. Sang Daniel Choi dari Amerika Serikat mengulas pemanfaatan teknologi digital bagi penguatan keselamatan dan kesehatan kerja. 

Baca Juga: Forum Komunikasi Dosen Bali Sukses Gelar Pengabdian kepada Masyarakat 

"Penggunaan virtual reality serta building information modeling sebagai sarana simulasi risiko kerja yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kerja melalui pelatihan berbasis pengalaman," bebernya.
 
Melalui simulasi tersebut, potensi bahaya dapat dikenali sejak dini sebelum tenaga kerja terjun langsung ke lapangan. 

Pendekatan berbasis teknologi seperti itu penting diterapkan secara adaptif sesuai dengan kesiapan sumber daya dan konteks di masing-masing negara.

Baca Juga: Pemkab Bogor Gencarkan Program ATS, Rudy Susmanto: Setiap Anak Harus Dapat Hak Pendidikan
 
Dari perspektif negara berkembang, Dr. Avelino Correia, MPH, DSc (PH) dari Timor Leste menekankan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan berbasis komunitas sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan.
 
Dia membagikan pengalaman Timor Leste pada pengembangan layanan kesehatan ibu dan anak, penanganan tengkes (stunting), serta pemanfaatan peran masyarakat sebagai agen perubahan kesehatan. 

"Teknologi perlu hadir sebagai pendukung yang memperkuat kapasitas masyarakat, bukan menggantikan peran sosial yang telah tumbuh secara lokal," katanya.

Baca Juga: PPOPM Kabupaten Bogor Beri Penghargaan Perdana untuk 14 Pelatih Berprestasi di PPOPM Awards 2025
 
Diskusi pada panel pertama menunjukkan bahwa transformasi sistem kesehatan masa depan menuntut keseimbangan antara inovasi teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta pemberdayaan komunitas. 

Para pembicara sepakat bahwa kecerdasan buatan, realitas virtual, serta sistem informasi digital menawarkan peluang besar bagi peningkatan akses dan mutu layanan kesehatan. Namun, hal itu tetap harus dikelola secara etis dan kontekstual.
 
Kehadiran wamenkes dari Indonesia dan Timor Leste pada forum tersebut memberikan bobot strategis bagi pertukaran gagasan, sekaligus membuka ruang dialog perspektif kebijakan dari dua negara. 

Baca Juga: IGORNAS Cup Kabupaten Bogor Fokus Pembinaan Atlet Muda, 215 Tim Pelajar Ikuti Turnamen Four FEO

Melalui seminar itu, tercipta pemahaman bersama bahwa tantangan kesehatan digital dan kesehatan mental bukan hanya isu nasional, tetapi juga menjadi agenda bersama kawasan yang menuntut kolaborasi lintas negara, lintas disiplin, serta lintas sektor.