“Program-program seperti beasiswa luar negeri dan pembangunan perguruan tinggi baru saat itu telah menghasilkan generasi intelektual yang kini menjadi penggerak berbagai bidang pembangunan. Ini tidak bisa dipisahkan dari peran kepemimpinan Presiden Soeharto,” lanjutnya.

Raden Minda menilai, pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dapat menjadi bentuk penghargaan negara atas dedikasi dan kerja keras dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

“Kita harus berani mengakui jasa seorang pemimpin dalam bidang tertentu. Dalam konteks pendidikan, Soeharto telah memberi fondasi yang kuat bagi lahirnya generasi terdidik Indonesia. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, fakta ini tidak bisa dihapus dari sejarah,” ujarnya.

Baca Juga: Semangat Hari Pahlawan, KCIC Obral Tiket Whoosh Mulai Rp200 Ribu, Tersedia 53 Ribu Kursi

FKD Indonesia, kata Raden Minda, akan terus mendorong agar diskusi mengenai gelar kepahlawanan Soeharto dilakukan secara terbuka, berbasis fakta sejarah, dan bukan semata dari sudut pandang politik.

“Kita ingin publik melihat sisi kontribusi yang nyata, khususnya di bidang pendidikan. Jika bangsa ini ingin menghargai jasa para pendahulu, maka pengakuan semacam ini bisa menjadi bentuk penghormatan yang proporsional,” pungkasnya.