Ancaman mikroplastik juga ditemukan di Indonesia. Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional menemukan mikroplastik telah mencapai kedalaman sekitar 2.450 meter di jalur Arus Lintas Indonesia atau Arlindo. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Marine Pollution Bulletin.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam BRIN, Corry Yanti Manullang, menjelaskan mikroplastik yang ditemukan didominasi berbentuk serat yang berasal dari bahan tekstil sintetis.

“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” ujarnya.

Baca Juga: Reko Hub Bogor Pilah 3 Juta Kilogram Sampah Daur Ulang per Tahun, Fokus pada Plastik dan Minyak Jelantah

Penelitian itu juga menemukan mikroplastik sudah masuk ke rantai makanan laut melalui kopepoda atau zooplankton kecil yang menjadi makanan ikan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa mikroplastik dapat berpindah hingga akhirnya dikonsumsi manusia.

Sementara itu, penelitian kolaborasi Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel tubuh partisipan penelitian. Mikroplastik terdeteksi dalam darah, urin, dan feses responden di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.

Dalam studi tersebut, jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah PET atau Polyethylene Terephthalate, yang umum digunakan pada botol minuman sekali pakai, kemasan makanan, hingga produk perawatan tubuh.