BOGOR, CEKLISSATU - Minyak jelantah atau minyak goreng bekas selama ini sering dianggap sebagai limbah rumah tangga yang tidak berguna. Padahal, jika dikelola dengan bijak, limbah dapur ini bisa diubah menjadi berbagai produk bernilai seperti sabun, lilin, hingga bahan bakar ramah lingkungan.

 Bahkan, minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat menjadi sumber pencemaran serius bagi tanah dan air. Minyak goreng yang sudah digunakan berkali-kali mengalami penurunan kualitas dan jika dibuang ke saluran air dapat menyebabkan penyumbatan pipa serta mencemari ekosistem perairan.

Selain itu, minyak jelantah membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami di lingkungan. Ketika dibuang ke tanah, minyak ini dapat merusak struktur tanah, menghambat penyerapan nutrisi oleh tanaman, dan mengurangi populasi mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah. Bahkan di permukaan air, minyak jelantah menciptakan lapisan yang menghambat pertukaran oksigen, membahayakan kehidupan akuatik.

Baca Juga: Kenaikan Harga Pertamax Picu Keluhan Warga dan Ojol di Cibinong

Salah satu pemanfaatan paling besar dari minyak jelantah adalah sebagai bahan baku biodiesel. Pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil . Minyak jelantah bahkan dapat diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk penerbangan ramah lingkungan .

Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa penggunaan minyak jelantah sebagai biodiesel dapat menghemat biaya produksi hingga 35 persen dibandingkan biodiesel dari CPO biasa serta mengurangi emisi CO2 hingga 91,7 persen dibandingkan solar biasa.