JAKARTA, CEKLISSATU — Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menilai tema Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” sangat relevan dengan tantangan Indonesia saat ini dan masa depan.
Menurutnya, menjaga tunas bangsa hari ini bukan lagi sekadar memastikan anak-anak tumbuh sehat dan mendapat pendidikan, tetapi juga memastikan generasi muda Indonesia memiliki daya tahan, daya saing, dan karakter kuat di tengah disrupsi global yang semakin kompleks.
“Hari ini tantangan generasi muda jauh lebih berat dan kompleks. Mereka menghadapi disrupsi teknologi, perang informasi, ancaman narkoba, judi online, krisis moral, hingga kompetisi global berbasis kecerdasan artifisial. Karena itu menjaga tunas bangsa hari ini berarti menyiapkan generasi yang tangguh secara intelektual, mental, moral, dan digital,” ujar Fahira Idris di sela-sela kunjungan kerja di Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (20/5).
Fahira Idris mengungkapkan, semangat kebangkitan nasional saat ini harus dimaknai sebagai kebangkitan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Jika pada masa Budi Utomo kebangkitan dimulai melalui pendidikan dan kesadaran kebangsaan, maka kebangkitan hari ini harus diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta penguatan karakter bangsa.
Menurut Senator Jakarta ini, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar menghadapi masa depan, terutama bonus demografi dan dominasi generasi muda usia produktif.
Namun modal besar tersebut bisa berubah menjadi beban jika tidak diiringi investasi serius pada pendidikan, literasi digital, keterampilan masa depan, dan penguatan karakter.
Untuk itu, Fahira Idris menyampaikan tujuh strategi untuk menumbuhkan generasi Indonesia yang tangguh. Pertama, membangun sistem pendidikan yang melahirkan pemecah masalah dan inovator.
Menurut Fahira Idris, pendidikan Indonesia harus bergerak dari budaya hafalan menuju budaya berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
“Generasi muda kita tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi pencipta teknologi dan solusi,” tegas Fahira Idris.
Kedua, memperkuat literasi digital dan ketahanan mental generasi muda. Fahira Idris menilai ancaman terbesar generasi saat ini bukan hanya kemiskinan ekonomi, tetapi juga kemiskinan literasi, banjir disinformasi, kecanduan digital, hingga krisis kesehatan mental akibat tekanan media sosial dan ruang digital yang tidak sehat.
Karena itu, literasi digital, etika digital, serta penguatan kesehatan mental anak dan remaja harus menjadi gerakan nasional yang terintegrasi.
Ketiga, mempercepat penguasaan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI). Menurut Fahira Idris, masa depan dunia kerja akan sangat dipengaruhi AI dan otomatisasi.
Oleh karena itu, Indonesia harus serius menyiapkan generasi muda melalui pelatihan digital, reskilling, upskilling, hingga penguatan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
“Kalau tidak siap, kita hanya akan menjadi pasar teknologi global. Tetapi kalau disiapkan serius, generasi muda Indonesia bisa menjadi pemain utama ekonomi digital dunia,” ujar Fahira Idris.
Keempat, memperkuat karakter kebangsaan dan nasionalisme generasi muda. Fahira Idris mengingatkan bahwa di tengah globalisasi dan arus budaya digital, penguatan nilai kebangsaan, toleransi, gotong royong, dan cinta tanah air tetap menjadi fondasi penting menjaga persatuan bangsa.
Bagi Fahira Idris, kedaulatan negara hari ini tidak hanya soal wilayah, tetapi juga kedaulatan budaya, informasi, dan ideologi.
Kelima, menghadirkan ekosistem yang mendukung kreativitas dan inovasi anak muda. Fahira Idris mendorong semakin banyak ruang kreatif, inkubator bisnis, pusat inovasi digital, pelatihan vokasi, hingga akses pembiayaan bagi generasi muda agar potensi mereka berkembang maksimal.
“Anak muda Indonesia harus diberi ruang untuk gagal, belajar, mencoba, dan tumbuh menjadi inovator,” kata Fahira Idris.
Keenam, memperkuat perlindungan generasi muda dari ancaman destruktif. Menurut Fahira Idris, perang terhadap narkoba, judi online, kekerasan seksual, perdagangan orang, hingga kejahatan digital harus menjadi prioritas nasional karena mengancam masa depan generasi bangsa.
Menjaga tunas bangsa, lanjutnya, bukan hanya mendidik, tetapi juga memastikan mereka terlindungi dari berbagai ancaman yang merusak masa depan.
Ketujuh, memastikan pembangunan yang lebih adil dan inklusif bagi generasi muda di seluruh Indonesia.
Fahira Idris menilai kebangkitan nasional hanya akan terwujud jika seluruh anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk mereka yang tinggal di wilayah kepulauan, pesisir, dan daerah tertinggal.
Pemerataan akses pendidikan, internet, kesehatan, dan peluang ekonomi harus menjadi prioritas agar bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan bangsa.
Fahira Idris juga mengapresiasi berbagai langkah pemerintah yang mulai memperkuat talenta digital, pendidikan vokasi, perlindungan anak di ruang digital, serta pengembangan pusat pelatihan teknologi dan AI di berbagai daerah.
Namun, ia menegaskan bahwa membangun generasi tangguh tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi keluarga, sekolah, komunitas, dunia usaha, media, hingga seluruh elemen masyarakat.
“Kebangkitan nasional hari ini dimulai dari bagaimana kita menjaga dan menyiapkan generasi muda Indonesia. Karena merekalah yang akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi penonton perubahan dunia atau menjadi bangsa besar yang memimpin perubahan,” pungkas Fahira Idris.
Comment