BOGOR, CEKLISSATU - Pakaian modis, menggemaskan, dan terkesan trendy pernah kita beli hanya karena lagi naik daun(trend) lalu setelah dipakai beberapa kali, baju itu tersimpan rapi di lemari dan tidak pernah disentuh lagi sehingga membuat kita tergiur dengan diskon besar-besaran dari toko online, kemudian membeli beberapa potong pakaian dengan harga murah tanpa berpikir panjang.
Fast fashion adalah model bisnis industri pakaian yang mengutamakan kecepatan dan volume produksi dengan harga murah. Tren yang muncul hari ini, besok sudah bisa dibeli, dan minggu depan sudah digantikan oleh model baru. Kedengarannya menguntungkan bagi konsumen yang ingin selalu tampil modis dengan budget terbatas. Namun di balik label harga murah itu, tersimpan ongkos mahal yang tak pernah tertera: kerusakan lingkungan, eksploitasi pekerja, dan ancaman serius bagi masa depan bumi kita.
Industri fesyen global kini bernilai mencapai $1,7 triliun dolar pada 2023 dan mempekerjakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya, gemerlap ekonomi ini dibangun di atas fondasi yang rapuh dengan konsekuensi yang menghancurkan bumi dan manusia. Di Amerika Serikat saja, diperkirakan 11,3 juta ton limbah tekstil berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya. Sementara di Indonesia, timbunan limbah fesyen mencapai 2,3 juta ton per tahun, dengan 60-70 persennya berasal dari fast fashion. Lebih memprihatinkan lagi, pakaian saat ini rata-rata hanya dipakai 7 hingga 10 kali sebelum dibuang. Angka ini menurun drastis dibandingkan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Omzet Pedagang Pakaian Bekas di Pasar Cimol Gedebage Bandung Anjlok hingga 60 Persen, Ini Sebabnya
Proses pewarnaan dan penyelesaian kain menghasilkan limbah cair beracun yang sering dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan. Zat kimia ini membunuh kehidupan akuatik, mencemari sumber air minum, dan merusak ekosistem secara keseluruhan.
Masalah lain yang tak kalah mengkhawatirkan adalah mikroplastik. Sekitar 60 persen pakaian saat ini terbuat dari bahan sintetis seperti poliester yang sebenarnya adalah plastik berbahan minyak bumi. Setiap kali kita mencuci pakaian sintetis, serat plastik mikro terlepas dan mengalir ke sistem air. Instalasi pengolahan air limbah tidak mampu menyaring partikel sekecil ini, sehingga akhirnya bermuara di lautan.
Comment