BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Pemantauan hilal di Observatorium Albiruni Universitas Islam Bandung bersama Kementrian Agama Jawa Barat, pada Minggu (17/5/202) sore, tidak membuahkan hasil.

Hilal gagal terlihat akibat kondisi cuaca berupa hujan dan langit mendung yang menutup hampir seluruh titik pengamatan di Jawa Barat.

Pemantauan dilakukan selain di Unisba juga dilakukan di lima titik pengamatan di Jawa Barat.

Baca Juga: Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS, Idulfitri 1 Syawal 1447 H Diperkirakan Jatuh 21 Maret

Namun, cuaca buruk menjadi kendala utama dalam proses rukyat sehingga hilal tidak dapat diamati secara langsung.

“Meski demikian, data hisab dari sejumlah wilayah di Jawa Barat menunjukkan posisi hilal telah memenuhi kriteria Neo MABIMS sebagai acuan penetapan awal bulan Hijriah,” Kepala Kantor Kemenag Jawa Barat, Dudu Rohman, Minggu (17/5/2026).

Dudu mengatakan, di Kota Banjar misalnya, ketinggian hilal tercatat mencapai 4 derajat 21 menit. Sementara di Pangandaran, ketinggian hilal mencapai 3 derajat 48 menit.

Baca Juga: Jangan Asal Sembelih, Kementan Tekankan Standar Halal dan Kesejahteraan Hewan Kurban

“Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah diprediksi jatuh pada Senin (18/5/2036).

“Namun, penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat dari Kementerian Agama Republik Indonesia,”katanya.

Dudu Rohman menyatakan, hasil rukyat dari Jawa Barat akan menjadi bagian dari laporan nasional dalam sidang isbat penentuan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah.