BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Aktivitas kegempaan Gunung Api Tangkuban Parahu terpantau fluktuatif meski statusnya masih berada pada Level I (Normal).
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan Gunung Api Tangkuban Parahu tetap meningkatkan kewaspadaan, karena potensi erupsi freatik dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa tanda awal yang jelas.
Terutama di area kawah aktif di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Subang, Jawa Barat.
Baca Juga: Heboh Beredar Video Gunung Tangkuban Parahu Erupsi, PVMBG: Hoaks
Plt Badan Geologi, Lana Sarina mengatakan, Gunung Api Tangkuban Parahu merupakan salah satu yang masih aktif di Indonesia yang memiliki sembilan kawah, dengan dua kawah utama di area puncak, yakni Kawah Ratu dan Kawah Upas.
Aktivitas erupsi Gunung Api Tangkuban Parahu itu pada umumnya berupa letusan freatik yang bersumber dari Kawah Ratu.
Lina mengatakan, berdasarkan laporan pemantauan, pada periode Juni hingga Juli 2025 terjadi peningkatan signifikan aktivitas kegempaan jenis Low Frequency (LF), dengan jumlah maksimum mencapai 270 kejadian pada 3 Juni 2025.
"Peningkatan gempa tersebut disertai dengan munculnya bualan lumpur di Kawah Ratu serta hembusan asap berwarna putih tipis hingga sedang, dengan ketinggian antara 5 hingga 150 meter dari dasar kawah," katanya, Senin (29/12/2025).
Lina mengatakan, dalam tiga hari terakhir aktivitas kegempaan kembali menunjukkan peningkatan.
Tercatat masing-masing 10 kejadian Gempa LF pada 24 dan 25 Desember 2025, serta 38 kejadian Gempa LF pada 26 Desember 2025.
Baca Juga: PVMBG: Awan Panas Erupsi Gunung Semeru Tembus 14 Km, Naik Level IV Status Awas
"Namun, hasil pemantauan seismik pada nilai dV/V belum menunjukkan pola penurunan signifikan, yang mengindikasikan belum adanya peningkatan tekanan akibat naiknya fluida ke permukaan," terangnya.
Secara visual, Kawah Ratu masih memperlihatkan hembusan asap berwarna putih dengan tekanan lemah hingga sedang dan ketinggian 5–80 meter dari dasar kawah.
"Sementara itu, Kawah Ecoma teramati mengeluarkan asap putih tipis dengan ketinggian 5–40 meter," katanya.
Baca Juga: Gunung Ibu Halmahera Barat Erupsi, Tinggi Kolom Abu Mencapai 1.500 Meter, Kini Berstatus Siaga
Lebih lanjut Lina mengatakan, pengamatan deformasi permukaan menggunakan EDM, GNSS, dan tiltmeter juga belum menunjukkan perubahan tekanan yang signifikan di bawah tubuh gunungapi.
"Data EDM memperlihatkan kecenderungan deflasi pada segmen Pilar–Upas dan inflasi pada segmen Pilar–Lereng, yang mengindikasikan adanya fluktuasi tekanan pada kedalaman dangkal. Kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena erupsi freatik dapat terjadi tanpa gejala vulkanik yang jelas," katanya.
Dengan mempertimbangkan seluruh data tersebut, Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Parahu tetap pada Level I (Normal).
Baca Juga: Aktivitas Gunung Karangetan Meningkat, Status Siaga
Masyarakat dan pengunjung diimbau tidak mendekati dasar kawah, tidak berlama-lama di kawasan kawah aktif, serta segera menjauh apabila terjadi peningkatan intensitas hembusan atau tercium bau gas menyengat.
Pemerintah daerah dan BPBD juga diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Tangkuban Parahu di Desa Cikole serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak mudah terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan mengikuti informasi resmi melalui.
Comment