BOGOR, CEKLISSATU - Sensasi pedas membakar lidah pada saat menyantap sambal atau masakan berbahan tambahan cabai ternyata menyimpan potensi besar bagi fungsi otak. Di balik rasa pedas yang menggugah selera, ada zat aktif dalam cabai yang belakangan ini menjadi sorotan para peneliti karena kemampuannya dalam meningkatkan fungsi kognitif yaitu capsaicin. 

Mengkonsumsi asupan zat capsaicin secara teratur berkorelasi dengan peningkatan skor kognitif pada pasien dengan gangguan kognitif ringan hingga Alzheimer. Bahkan, sebuah tinjauan sistematis pada tahun 2026 mengenai (Gut microbiota-dependent 24-hydroxycholesterol metabolism contributes to capsaicin-induced amelioration of Alzheimer’s disease-like pathology in mice) menyimpulkan bahwa capsaicin menunjukkan harapan dalam memperbaiki perubahan molekuler, kognitif, dan perilaku terkait kondisi Alzheimer pada manusia dan juga hewan. Capsaicin bekerja dengan mengubah komposisi mikroba usus, terutama meningkatkan genus Oscillibacter. Bakteri ini kemudian memengaruhi metabolisme lipid dan meningkatkan kadar 24(S)-hydroxycholesterol (24-HC) dalam tubuh. Kemudian masuk ke otak dan meningkatkan aktivitas fagositosis mikroglia (kemampuan sel imun otak  memakan plak amyloid) serta menghambat produksi faktor proinflamasi, selain itu capsaicin terbukti dapat melintasi sawar darah-otak dan terakumulasi di otak. Di dalam otak, capsaicin menurunkan stres oksidatif dan peradangan, serta meningkatkan ekspresi protein sinaptik seperti PSD95 yang penting untuk koneksi antar sel saraf, serta melalui peningkatan aliran darah otak capsaicin meningkatkan aktivitas TRPV1 yang memicu vasodilatasi pembuluh darah otak, sehingga meningkatkan aliran darah dan pengiriman nutrisi ke otak. 

Baca Juga: Jelang Idul Adha 2026, Harga Bawang dan Cabai Meroket di Pasar Gembrong Bogor 

Manfaat capsaicin juga bersifat dosis, tergantung pada efek perlindungannya terhadap Alzheimer mungkin baru terlihat pada tingkat konsumsi sedang hingga tinggi. Namun, konsumsi cabai berlebihan juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan, iritasi lambung, dan efek samping lainnya. Efek kognitif capsaicin mulai terlihat pada tingkat konsumsi cabai dalam kadar sedang hingga tinggi yang diukur menggunakan kuesioner frekuensi makanan, bukan dalam bentuk dosis ekstrak murni. Jadi, menambahkan cabai dalam menu harian secara wajar mungkin sudah memberikan manfaat. 

Sensasi pedas dari cabai ternyata tidak hanya membangkitkan selera, tetapi juga berpotensi dapat membangkitkan sel-sel otak dan mempercepat fungsinya. Zat capsaicin di dalamnya menunjukkan kemampuan yang menjanjikan dalam meningkatkan fungsi kognitif, baik melalui jalur mikrobiota usus, efek antiinflamasi langsung di otak, maupun peningkatan aliran darah ke otak. Namun, seperti halnya semua hal dalam hidup, kuncinya adalah keseimbangan.

Sumber: jurnal Scientific Reviews 2026 , klikdokter.com

Ade Pramitha