BOGOR, CEKLISSATU - Diberbagai daerah di Indonesia, daun kecil berwarna hijau ini memang lekat dengan mitos dan kepercayaan mistis yang diwariskan turun-temurun. Ada yang menggantungkannya di pintu rumah sebagai penangkal energi negatif, ada pula yang menggunakannya dalam ritual adat untuk membersihkan diri dari gangguan gaib. 

Sejak zaman nenek moyang, daun kelor atau dalam bahasa ilmiahnya Moringa oleifera telah dianggap sebagai tanaman sakral di berbagai budaya Nusantara. Dalam tradisi Jawa, kelor kerap digunakan dalam ritual tolak bala dan dipercaya mampu menetralkan energi buruk. Sejarawan budaya Jawa, H.J. de Graaf, bahkan mencatat dalam Histories of Java bahwa kelor menjadi salah satu tanaman yang dianggap sakral di desa-desa Jawa. Menariknya, meskipun klaim mistis belum terbukti secara ilmiah, kepercayaan masyarakat tentang daun kelor yang menolak penyakit ternyata memiliki dasar kesehatan yang nyata. Penelitian modern justru membuktikan bahwa daun kelor benar-benar kaya akan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, dalam 100 gram daun kelor terkandung 64 kalori total, 9,4 gram protein, 7.560 IU Vitamin A, 51,7 mg Vitamin C, 185 mg Kalsium, 4 mg Zat besi, 337 mg Kalium, dan 42 mg Magnesium. 

Baca Juga: Dibalik Harga Murah Baju Trenddy Terdapat Bahaya Industri Fast Fashion

Daun kelor juga mengandung senyawa antioksidan seperti quercetin dan asam klorogenat yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Kekayaan nutrisi ini menjadikan daun kelor sebagai sumber gizi yang sangat potensial untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, diantaranya mencegah stunting dan malnutrisi, menstabilkan gula darah, meningkatkan daya tahan tubuh, serta proteksi antikanker.