BOGOR, CEKLISSATU – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin pesat, dari alat yang awalnya digunakan secara terbatas, kini telah merambah ke berbagai sektor. AI mampu mendorong lahirnya ide-ide baru dan membantu mengotomatisasi pekerjaan, namun juga memunculkan sejumlah kekhawatiran.
Salah satu isu yang kerap dibahas adalah potensi hilangnya lapangan kerja. Dengan terus munculnya inovasi berbasis AI, dampaknya terhadap dunia industri dan kehidupan masyarakat diprediksi akan semakin besar.
Jakpat melakukan survei terkait penggunaan AI di tahun 2025 untuk memahami tren yang terjadi di indonesia. Ada 1.423 responden terlibat, dengan fokus pada pemanfaatan AI dalam kehidupan profesional, pribadi, serta persepsi mereka terhadap konten AI di media sosial.
Hampir semua responden mengaku sudah mengenal AI, dan 42% di antaranya menggunakannya untuk keperluan pekerjaan maupun aktivitas pribadi. Sebanyak 20% hanya menggunakan AI untuk urusan profesional atau studi, dan 10% lainnya hanya untuk kegiatan sehari-hari.
"Meski pengetahuan tentang AI cukup merata, tingkat penggunaannya bervariasi antar generasi. Gen Z lebih aktif menggunakan AI untuk berbagai kebutuhan, sementara penggunaan oleh Milenial dan Gen X cenderung lebih terbatas," jelas Farida Hasna, Peneliti Utama Jakpat.
Di kalangan Gen Z, satu dari tiga orang memanfaatkan AI untuk analisis data, sedangkan 25% Milenial memanfaatkannya untuk membuat konten.
Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kekhawatiran AI bisa meningkatkan angka pengangguran dan penipuan. Sebanyak 64% khawatir manusia akan menjadi terlalu bergantung pada AI, dan 61% merasa teknologi ini bisa membuat orang menjadi malas atau kurang kreatif. Ada juga kekhawatiran soal penyalahgunaan AI untuk penipuan, deepfake, dan kejahatan digital lainnya (63%).
Tren AI di Indonesia
Hampir setengah responden mulai menggunakan AI pada enam bulan terakhir. Gen Z lebih dulu mengenal teknologi ini, dengan 27% di antaranya sudah menggunakan AI selama 1–2 tahun. Sebaliknya, satu dari empat Gen X baru mulai menggunakannya dalam 4–6 bulan terakhir.
ChatGPT menjadi aplikasi AI paling dikenal (74%), disusul Gemini (51%). Beberapa aplikasi lokal berbasis Bahasa Indonesia juga digunakan, meski masih dalam jumlah terbatas. Tiga dari empat responden menggunakan aplikasi AI versi gratis.
Pengguna AI di Media Sosial
Instagram (62%) dan TikTok (60%) menjadi platform utama untuk mengakses konten AI. Jenis konten yang paling populer adalah video animasi dan transformasi visual, seperti foto bergaya anime atau lukisan digital.
Meski separuh responden merasa bisa membedakan konten AI dari konten buatan manusia, 47% lainnya masih ragu.
"Paparan yang tinggi terhadap konten AI di media sosial membuat masyarakat semakin akrab, meskipun belum semua bisa mengenalinya secara akurat," ujar Hasna.
Sebanyak 29% responden bahkan mengikuti influencer AI, yakni karakter virtual berbasis AI. Di antaranya, Arbie Seo lebih dikenal oleh pengguna yang lebih tua, sementara Thalasya Pov dan Chaya Gram populer di kalangan Gen Z.
Comment