JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Menguap merupakan respons alami yang umum terjadi ketika seseorang merasa lelah, mengantuk, atau bosan, dan menariknya, sering kali memicu respons serupa pada orang yang melihatnya.
Fenomena ini ternyata telah menjadi perhatian para peneliti dan memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan aktivitas otak manusia.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menguap dapat bersifat menular atau contagious yawning. Bahkan, seseorang tidak harus melihat orang lain menguap secara langsung.
Mendengar suara menguap, melihat gambar, hingga membaca kata "menguap" dalam beberapa kasus juga dapat memicu respons yang sama.
Baca Juga: Sering Ngerasa Ngantuk Usai Makan, Ternyata Ini Sebabnya
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology, menguapmenular merupakan fenomena yang banyak ditemukan pada manusia dan beberapa spesies hewan sosial. Para peneliti meyakini bahwa respons tersebut berkaitan dengan kemampuan otak dalam mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Fenomena ini umumnya mulai terlihat pada anak-anak usia sekolah dan menjadi lebih konsisten seiring berkembangnya kemampuan sosial seseorang.
Sebaliknya, balita dan bayi cenderung belum menunjukkan respons menguapmenular seperti yang ditemukan pada orang dewasa.
Berikut beberapa rahasia mengapa menguap itu menular
Baca Juga: 5 Makanan Kaya Air dan Serat untuk Menjaga Gula Darah Stabil, Cocok Untuk Menu Diet Sehat Penderita Diabetes
1. Berkaitan dengan Sistem Neuron Cermin
Salah satu teori yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah keberadaan neuron cermin (mirror neurons). Sistem saraf tersebut pertama kali ditemukan oleh para peneliti dari University of Parma pada awal 1990-an saat mempelajari aktivitas otak.
Neuron cermin bekerja ketika seseorang melakukan suatu tindakan maupun saat melihat orang lain melakukan tindakan yang sama. Karena itu, ketika seseorang melihat orang lain menguap, area tertentu pada otak dapat ikut aktif dan memicu respons serupa.
Para ilmuwan menilai mekanisme ini berperan penting dalam proses pembelajaran sosial, imitasi, serta kemampuan memahami perilaku orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Daun Sukun Disebut Punya Efek Luar Biasa untuk Kesehatan, Bisa Bantu Tekanan Darah hingga Gula Darah
2. Diduga Memiliki Hubungan dengan Empati
Selain neuron cermin, sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara menguap menular dan kemampuan empati. Studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of the Royal Society B menunjukkan bahwa seseorang lebih mudah tertular menguap dari anggota keluarga, teman dekat, atau orang yang memiliki hubungan emosional dengannya.
Temuan tersebut membuat para peneliti menduga bahwa menguap menular mungkin berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami dan merasakan kondisi orang lain. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penelitian mengenai hubungan ini masih terus berkembang.
Baca Juga: Tak Perlu Mahal, Jalan Kaki 45 Menit Bikin Tubuh Bugar, Pikiran Tenang, Serta Tingkatkan Imun dan Mental
3. Tidak Semua Orang Mengalaminya
Meski cukup umum terjadi, tidak semua orang mudah tertular menguap. Penelitian dari Duke University menemukan bahwa tingkat respons setiap individu dapat berbeda-beda.
Faktor seperti usia, kondisi neurologis, tingkat perhatian, hingga karakteristik sosial seseorang diduga turut memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami menguap menular. Karena itu, ada orang yang langsung menguap setelah melihat orang lain melakukannya, sementara sebagian lainnya tidak menunjukkan respons serupa.
Baca Juga: Bukan Sekadar Langkah Santai, Ini Cara Jalan Kaki yang Bisa Membentuk Massa Otot
4. Fenomena Sederhana yang Masih Menarik Diteliti
Meskipun terlihat sebagai aktivitas sehari-hari yang sederhana, menguap menular masih menjadi topik yang terus dipelajari para ilmuwan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini tidak sekadar berkaitan dengan rasa kantuk, tetapi juga melibatkan mekanisme kompleks pada otak dan interaksi sosial manusia.
Dengan kata lain, saat seseorang ikut menguap setelah melihat orang lain menguap, respons tersebut kemungkinan merupakan bagian dari cara otak memahami dan merespons lingkungan sosial di sekitarnya.
(MG/Siti Balqis Sari Manah)
Comment