Di era makanan viral dan kuliner serba instan, mie ayam Acep barangkali terasa sederhana. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah makna tumbuh.
Di tengah arus modernitas, Acep menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar omzet: keutuhan rasa, kejujuran warisan, dan cinta pada masa lalu.
Ia tidak berharap gerobaknya viral di media sosial. Ia hanya berharap, setiap orang yang makan di situ bisa pulang dengan perut kenyang dan hati hangat.
Baca Juga: Desa Tegalwangi Jasinga Bogor Pertahankan Tradisi Leluhur, Lestarikan Padi Lokal hingga Leuit
“Bapak saya pernah bilang, yang penting orang makan mie kita itu puas dan senang. Dan itu yang saya jaga sampai sekarang,” ucap Acep.
Kampung Muncang Babakan mungkin bukan destinasi wisata kuliner, tapi ia menyimpan kisah yang tak bisa dicicipi di tempat lain. Yakni, kisah tentang anak yang setia menjaga jejak ayahnya, melalui sepiring mie ayam yang sederhana.
Dan selama gerobak itu masih berdiri, selama api di bawah pancinya terus menyala, maka cerita tentang Bapak Memed takkan pernah benar-benar mati.
Karena, seperti kata Acep, "Yang lebih mahal dari sebuah warisan adalah kenangan."
Comment