"Saya dari dulu memang senang sama binatang, apalagi burung sama ayam bangkok. Kalau pulang kerja, ya mainnya ke kandang. Lihat mereka sehat, aktif, hati ini ikut senang," ujar Haji Abbas dengan mata berbinar.

Bagi Haji Abbas, ayam bangkok adalah simbol keindahan dan kekuatan. Ia memelihara berbagai jenis ayam, dari ayam Bangkok Pakoy, ayam Birma, hingga jenis silangan langka. 

Ia pun membocorkan salah satu kisah unik dari ayam betina yang ia beli dari temannya di Dramaga.

"Teman saya sudah bilang, jangan kaget kalau nanti telurnya warna biru muda. Eh, bener. Baru beberapa hari dipelihara, udah bertelur dua. Warnanya biru muda semua, kayak telur bebek," kisahnya sambil tertawa kecil.

Keunikan ini menjadi salah satu hal yang membuatnya semakin mencintai dunia ternak ayam, bukan untuk bisnis, melainkan murni karena hobi.

Setiap pagi, sebelum membuka rumah makan, Haji Abbas selalu menyempatkan diri duduk di beranda sambil menikmati kopi dan mendengarkan kicauan burung. Aktivitas sederhana ini memberinya ketenangan.

"Hidup ini jangan cuma cari uang aja. Kita juga harus punya waktu buat hal-hal yang bikin hati tenang. Buat saya, ya ini,  binatang-binatang ini. Udah kayak teman," ucapnya.

Meski disibukkan oleh aktivitas rumah makan, Haji Abbas tak pernah absen dari rutinitas merawat hewan peliharaannya. Ia percaya bahwa keseimbangan antara pekerjaan, ibadah, dan hobi adalah kunci hidup bahagia.

Kesederhanaannya dalam menjalani hidup dan ketulusannya dalam melayani pelanggan menjadikan sosok Haji Abbas sebagai panutan di lingkungannya.

"Kalau kita niatnya baik dan kerja dengan hati, Insya Allah hidup jadi berkah," katanya.

Dari dapur rumah makan hingga kandang ayam, dari suara penggorengan hingga kicauan burung di pagi hari semuanya dirawat oleh Haji Abbas dengan cinta. Rumah Makan Haji Abbas pun bukan hanya tempat makan, tapi juga menjadi simbol ketulusan, ketekunan, dan kecintaan pada makhluk hidup.

(Acep Mulyana)