Untuk mencapai target zero stunting, berbagai program terus digencarkan, salah satunya melalui program “Penting Lur” (Peduli Stunting Lurah) yang dijalankan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Kami bekerja sama dengan KWT untuk penyediaan sayuran bergizi bagi masyarakat. Selain itu, kami juga menggandeng CSR untuk menyalurkan bantuan makanan tambahan seperti telur bagi anak-anak yang membutuhkan,” jelas Arief.

Dalam hal jaminan kesehatan, pihak kelurahan telah merampungkan validasi data BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) tahap pertama. Sebanyak 1.743 data warga berhasil diaktifkan kembali setelah melalui proses sinkronisasi dan perbaikan desil agar bantuan lebih tepat sasaran.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Bersiap Dibanjiri Satu Juta Wisatawan saat Lebaran, Puncak Masih Jadi Magnet Utama

Tak hanya fokus pada pembangunan fisik dan kesehatan, Cimahpar juga mulai mengembangkan potensi ekonomi lokal, khususnya di sektor wisata kuliner. Kampung Ketupat di RW 04, Kampung Bojong, menjadi salah satu unggulan yang mulai dilirik.
Ke depan, melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pihak kelurahan juga tengah mengkaji potensi wisata air “Ngalunban” di sepanjang Sungai Cimahpar.

“Kami masih melakukan analisis mendalam terkait kelayakan dan faktor keselamatan. Jangan sampai saat dilaksanakan justru membahayakan pengunjung. Untuk kontribusi terhadap PAD masih dalam tahap kajian,” pungkasnya.